JurnalPatroliNews | Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, menegaskan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak. Menurutnya, pengawasan dan pendampingan orang tua harus menjadi prioritas agar anak tidak terjerumus ke dalam situasi yang membahayakan keselamatan maupun masa depannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri konferensi pers pengungkapan kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan berinisial YTR di Markas Polda Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Dedi mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadikan kasus tersebut sebagai perhatian dari sisi hukum, tetapi juga sebagai momentum memperkuat peran keluarga dalam melindungi anak-anak.
“Perspektif yang harus kita bangun bukan hanya melihat kasus ini semata, tetapi bagaimana seluruh keluarga semakin peduli terhadap perlindungan anak, terutama mereka yang masih berada di bawah pengawasan orang tua,” ujarnya.
Menurut Dedi, setiap orang tua memiliki tanggung jawab penuh untuk mendampingi anak-anak yang masih berada dalam masa perwalian. Pendampingan tersebut tidak hanya dilakukan ketika anak berada di rumah, tetapi juga saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, berkomunikasi dengan orang lain, hingga ketika hendak bertemu seseorang.
Ia menilai, pengawasan yang dilakukan keluarga merupakan langkah paling efektif dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi maupun tindak kriminal yang dapat mengancam anak.
Dedi juga mengaku prihatin melihat fenomena sosial yang berkembang saat ini. Ia menilai pengawasan terhadap anak mulai mengalami penurunan sehingga banyak remaja menjalani aktivitas tanpa pendampingan dari keluarga.
“Kita melihat semakin banyak anak-anak, bahkan yang masih di bawah umur, beraktivitas tanpa pengawasan orang tua. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian bersama karena dapat membuka peluang munculnya berbagai persoalan,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk lebih aktif mengenali lingkungan pergaulan anak, mengetahui teman-temannya, memahami aktivitas yang dilakukan, hingga membangun komunikasi yang terbuka agar setiap persoalan dapat diketahui sejak dini.
Menurut Dedi, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak akan memperkuat hubungan emosional sekaligus menjadi sarana pencegahan terhadap berbagai potensi kejahatan maupun tindakan kekerasan.
Ia berharap peristiwa yang menimpa YTR dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Jawa Barat untuk semakin meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak.
“Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat penegak hukum. Tanggung jawab terbesar justru dimulai dari lingkungan keluarga melalui pengawasan, perhatian, dan pendampingan yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua,” tegasnya.
Dedi menambahkan, keluarga yang mampu membangun komunikasi, kedekatan emosional, serta pengawasan yang baik akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi muda yang aman, sehat, dan terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat budaya perlindungan anak agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman serta mendapatkan masa depan yang lebih baik.















Komentar