Dua Warga Rumania Dipenjara Usai Tikam Jurnalis Iran di London

JurnalPatroliNews | London – Pengadilan Old Bailey di London menjatuhkan hukuman penjara kepada dua warga negara Rumania yang terbukti melakukan penusukan terhadap jurnalis Iran, Pouria Zeraati, dalam serangan yang disebut hakim dilakukan untuk kepentingan rezim Iran.

Dalam putusan yang dibacakan pada Jumat (3/7) waktu setempat, George Stana (25) dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, sementara Nandito Badea (21) divonis 8 tahun penjara setelah dinyatakan bersalah melakukan penganiayaan berat dengan sengaja terhadap korban.

Majelis hakim menyatakan bukti-bukti yang diajukan selama persidangan menunjukkan secara meyakinkan bahwa aksi penyerangan tersebut dilakukan atas nama pemerintah Iran melalui pihak ketiga.

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Melalui pernyataannya di media sosial X, Cooper menegaskan Inggris tidak akan mentoleransi serangan terhadap jurnalis di wilayahnya.

“Siapa pun yang bertindak atas nama Iran serta merencanakan dan melakukan serangan terhadap seorang jurnalis di tanah Inggris telah melakukan tindakan yang sangat tercela. Hukuman hari ini mengirimkan pesan yang jelas kepada rezim Iran dan mereka yang menjalankan perintahnya,” tegas Cooper.

Korban, Pouria Zeraati, yang bekerja untuk Iran International, diserang di luar kediamannya di kawasan Wimbledon pada 29 Maret 2024. Saat itu ia mengalami tiga luka tusuk di bagian paha.

Jaksa mengungkapkan serangan tersebut telah dipersiapkan melalui serangkaian pengintaian sebelum akhirnya dieksekusi atas perintah pihak ketiga yang diduga bertindak mewakili kepentingan negara Iran.

Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan keyakinannya bahwa aksi tersebut dilakukan demi kepentingan kekuatan asing. Pengadilan juga mendengar kesaksian bahwa Zeraati selama ini dikenal sebagai pengkritik keras pemerintah Iran dan telah beberapa kali menerima ancaman, termasuk terhadap keluarganya.

Bahkan, dalam persidangan terungkap bahwa foto Zeraati sempat dipasang di Teheran disertai tulisan “Wanted: Dead or Alive”, yang memperlihatkan tingkat ancaman yang dihadapinya.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Zeraati mengaku hidup dalam ketakutan setelah insiden penusukan tersebut dan akhirnya memutuskan meninggalkan Inggris untuk sementara demi alasan keamanan karena khawatir menjadi sasaran serangan lanjutan.

Sementara itu, Kepolisian Kontra Terorisme Inggris mengungkapkan telah menggagalkan sedikitnya 20 rencana yang diduga berkaitan dengan Iran sejak tahun 2022.

Pihak Iran International menyambut baik putusan pengadilan tersebut dan berharap vonis terhadap kedua pelaku dapat menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang berupaya mengintimidasi maupun menyerang jurnalis yang menjalankan tugasnya.

Komentar