Selat Hormuz Bergejolak, Serangan AS ke Iran Picu Ketegangan Baru

JurnalPatroliNews – Jakarta -Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Selasa (7/7/2026). Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial di kawasan strategis Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan operasi militer dilakukan dalam skala besar. Pemerintah AS menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang berlayar di jalur pelayaran internasional tersebut.

Di sisi lain, sejumlah media Iran melaporkan terdengarnya ledakan di beberapa wilayah, termasuk Pulau Qeshm, Kota Sirik, hingga Bandar Abbas yang berada di sekitar kawasan Teluk Persia.

Pemerintah Iran mengecam keras aksi militer tersebut. Melalui Kementerian Luar Negeri, Teheran menilai serangan AS sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepahaman penghentian sementara aksi militer yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak.

Iran juga memperingatkan akan mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk menjaga kepentingan nasional dan keamanan negaranya.

Eskalasi ini terjadi setelah Amerika Serikat kembali memperketat tekanan terhadap Iran, termasuk dengan membatalkan rencana pelonggaran sanksi terhadap sektor minyak serta mendorong kelanjutan proses negosiasi damai.

Seorang pejabat AS yang dikutip sejumlah media internasional menegaskan bahwa serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dinilai tidak dapat diterima dan akan mendapatkan respons yang dianggap setimpal.

Sementara itu, laporan badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) menyebut insiden di Selat Hormuz diawali serangan rudal terhadap sebuah kapal tanker yang mengakibatkan kebakaran. Tidak lama berselang, dua kapal lainnya dilaporkan diserang menggunakan pesawat tanpa awak (drone) saat berada di dekat perairan Oman.

Pemerintah Qatar mengungkapkan salah satu kapal yang menjadi sasaran merupakan kapal tanker miliknya bernama Al-Rekayyat. Doha kemudian menyampaikan protes diplomatik kepada Iran dan meminta penjelasan resmi atas insiden tersebut.

Namun, pemerintah Iran membantah tudingan tersebut. Teheran menyebut pernyataan Qatar tidak dapat diterima dan mengklaim kapal tersebut ditembak setelah mengabaikan peringatan militer terkait jalur pelayaran yang dilintasi.

Perkembangan terbaru ini kembali meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Hingga kini, situasi di kawasan tersebut masih terus dipantau seiring meningkatnya potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Komentar