JurnalPatroliNews | Jakarta – Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah melonjak tajam pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026). Lonjakan dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Minyak mentah jenis Brent ditutup menguat 3,87 dolar AS atau 4,59 persen menjadi 88,10 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,54 dolar AS atau 4,48 persen ke level 82,49 dolar AS per barel.
Kedua kontrak acuan tersebut mencatat posisi tertinggi sejak pertengahan Juni 2026.
Secara mingguan, performa pasar minyak juga menunjukkan tren penguatan yang signifikan. Harga Brent dan WTI sama-sama membukukan kenaikan sekitar 16 persen sepanjang pekan ini. Bagi Brent, kenaikan tersebut menjadi penguatan mingguan ketiga secara beruntun, sedangkan WTI mencatat tren positif selama dua pekan berturut-turut.
Pelaku pasar menilai lonjakan harga tidak terlepas dari meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Situasi memanas setelah Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur strategis di Iran, termasuk jembatan dan bandara.
Sebagai respons, Iran disebut menyerang fasilitas pembangkit listrik serta instalasi desalinasi air di Kuwait. Teheran juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk operasi yang disebut sebagai serangan langsung pertama ke wilayah Suriah setelah enam malam berturut-turut serangan AS ke Iran.
Di tengah meningkatnya konfrontasi tersebut, Iran juga dilaporkan mendorong kelompok Houthi untuk mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi milik Iran.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.
Analis pasar menilai setiap eskalasi konflik di wilayah tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak global, sehingga mendorong volatilitas harga energi dalam beberapa waktu ke depan.
Selain menjadi perhatian investor internasional, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari biaya transportasi, industri manufaktur, hingga tekanan inflasi di sejumlah negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan situasi geopolitik berikutnya sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam jangka pendek.











Komentar