JurnalPatroliNews – Jakarta – Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru operasi militernya terhadap Iran yang berlangsung pada Senin (13/7) malam waktu setempat. Operasi tersebut dilaksanakan di bawah arahan langsung Presiden Donald Trump dan menjadi rangkaian serangan hari ketiga berturut-turut terhadap sasaran militer Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi selama sekitar lima jam itu telah mencapai target yang ditetapkan. Dalam keterangannya melalui platform X, CENTCOM menyatakan pasukan AS menyerang sejumlah sasaran militer di berbagai wilayah Iran, termasuk Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi kemampuan militer Iran dalam melancarkan serangan terhadap jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk.
Selama tiga hari terakhir, Washington terus meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran. Selain operasi udara, Presiden Trump juga mengumumkan kebijakan untuk kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan.
Iran Luncurkan Serangan Balasan
Di pihak lain, Iran merespons operasi militer tersebut dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Situasi keamanan di kawasan Teluk pun kembali memanas seiring aksi saling serang kedua negara.
Pemerintah Iran juga mempertahankan kebijakan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Teheran menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz merupakan kewenangan Iran dan menyatakan tidak akan menerima campur tangan Amerika Serikat dalam menentukan kebijakan di wilayah tersebut.
Dampak terhadap Stabilitas Kawasan
Eskalasi konflik antara Washington dan Teheran terus meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dinilai berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa ketegangan kedua negara akan segera mereda. Meski gelombang serangan terbaru telah dinyatakan selesai oleh militer AS, situasi keamanan di kawasan masih dipantau secara ketat oleh berbagai negara dan organisasi internasional.















Komentar