JurnalPatroliNews | Jakarta – Pemerintah memastikan langkah antisipatif telah disiapkan untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Upaya tersebut dilakukan guna meminimalkan dampak gejolak geopolitik terhadap pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan stabilitas energi di dalam negeri.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Ace Hasan Syadzily, usai membuka Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Gedung Lemhannas RI, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 25 kepala daerah, terdiri atas 23 bupati dan 2 wali kota, yang mengikuti rangkaian pembekalan kepemimpinan nasional.
Diversifikasi Sumber Pasokan Energi
Ace menjelaskan bahwa pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan diversifikasi sumber impor energi sehingga ketergantungan terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah semakin berkurang.
Menurutnya, Indonesia kini memperoleh pasokan energi dari berbagai negara, termasuk kawasan Afrika, sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
“Sekarang pemerintah telah mencoba mencari alternatif pasokan BBM kita dari daerah atau negara lain, salah satunya Afrika. Jadi ketergantungan kita terhadap impor dari Timur Tengah sekarang sudah dikurangi, sehingga tentu ini akan mengurangi dampak dari perang antara Iran dengan Amerika Serikat,” ujar Ace.
Dorong Pemanfaatan Energi Domestik
Selain memperluas sumber impor, pemerintah juga terus meningkatkan pemanfaatan energi yang diproduksi di dalam negeri.
Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah pengembangan bahan bakar nabati melalui program B50, yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar impor.
“Pemerintah juga mendorong berbagai langkah dengan memproduksi biodiesel seperti B50, yang seluruhnya merupakan produksi dalam negeri Indonesia sehingga kita tidak lagi tergantung kepada impor,” jelasnya.
Optimistis Ketahanan Energi Tetap Terjaga
Ace menilai kombinasi antara diversifikasi sumber pasokan dan penguatan energi domestik menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat.
Ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi internasional serta mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
“Sejauh ini pemerintah telah melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan pasokan energi dalam negeri kita di tengah gejolak global, terutama perang Iran-Amerika,” tegasnya.
Menurut Lemhannas, penguatan ketahanan energi merupakan bagian penting dari strategi nasional dalam menghadapi berbagai tantangan global yang berpotensi memengaruhi perekonomian dan stabilitas nasional.













Komentar