JurnalPatroliNews | Jakarta – Pasar logam mulia global mencatat penguatan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026). Harga emas melonjak tajam dan kembali menembus level US$4.250 per ons, mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari, seiring melemahnya dolar Amerika Serikat, turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta meningkatnya optimisme terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga emas spot naik 4,4 persen menjadi US$4.253,36 per ons, setelah sempat menyentuh US$4.264,93 per ons, level tertinggi sejak pertengahan Juni. Kenaikan tersebut juga membawa emas kembali bergerak di atas rata-rata pergerakan 50 hari yang berada di kisaran US$4.160 per ons, memperkuat sinyal positif di pasar.
Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember ikut menguat 3,7 persen dan ditutup di level US$4.305,20 per ons.
Analis pasar menilai penguatan harga emas dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor fundamental. Pelemahan dolar AS yang berada di dekat posisi terendah dalam enam pekan membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun bertahan pada level terendah dalam sepekan. Kondisi tersebut menurunkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga minat terhadap aset safe haven kembali meningkat.
Sentimen positif juga datang dari perkembangan geopolitik. Meningkatnya harapan terhadap penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong optimisme di pasar keuangan global dan memengaruhi pergerakan aset investasi.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan.
Harga perak spot melonjak 4,4 persen menjadi US$62,11 per ons, sekaligus menyentuh level tertinggi sejak awal Juli.
Sementara itu, platinum naik 0,2 persen menjadi US$1.740,04 per ons, sedangkan paladium menguat 1,5 persen menjadi US$1.373,24 per ons.
Meski mencatat reli yang cukup kuat, harga emas saat ini masih berada sekitar 24 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$5.594,82 per ons yang tercapai pada Januari 2026.
Sebelumnya, pasar logam mulia sempat mengalami tekanan akibat perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga Amerika Serikat serta melemahnya permintaan investasi pada instrumen berbasis emas.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Prospek pemangkasan suku bunga dinilai berpotensi kembali meningkatkan aliran investasi ke emas maupun produk Exchange Traded Fund (ETF) berbasis logam mulia.
Di sisi lain, prospek logam industri juga menjadi perhatian. Pasar memperkirakan platinum masih akan mengalami defisit pasokan sepanjang 2026, sementara paladium berpotensi memasuki fase surplus sehingga dapat memengaruhi pergerakan harga kedua komoditas tersebut pada sisa tahun ini.















Komentar