Kemerosotan Pemimpin

Oleh:Yudi Latif

Saudaraku, republik ini mula-mula dibangun oleh manusia yang menjadikan pengetahuan, integritas, dan kesederhanaan sebagai tiang pengabdian. Dari reruntuhan kolonialisme, mereka melahirkan Pancasila, Konstitusi, persatuan, serta martabat Indonesia di panggung dunia.

Mereka berbeda pandangan, tetapi yang dipertarungkan terutama gagasan, bukan pembagian kekuasaan. Conflict of ideas lebih kuat daripada conflict of interests. Mereka boleh berbeda jalan, tetapi tetap dipersatukan oleh satu cakrawala: Indonesia.

Kini hukum itu seperti berbalik. Ketika zaman menuntut kapasitas yang semakin tinggi, mutu kepemimpinan justru merosot. Janji berlari lebih cepat daripada kemampuan; citra lebih subur daripada kompetensi. Dahulu kebodohan adalah musuh politik, kini kedalaman berpikir justru kerap menjadi gangguan bagi kenyamanan kekuasaan.

Regresi ini bukan sekadar kegagalan individu, melainkan buah ekosistem yang melemah: pendidikan kehilangan daya pembentukan watak, kaderisasi politik meredup, sementara demokrasi lebih menghargai elektabilitas daripada kapasitas.

Dari sanalah lahir pemimpin plastik: ketika isi tak cukup, kemasan diperindah; ketika kemampuan belum terbentuk, citra diperbesar. Ia mencintai kilau emas sepuhan, tetapi asing terhadap nur emas murni—sibuk mengelola kesan, namun gagal memikul amanat.

Yang paling berbahaya adalah ketika mediokritas menjadi kebiasaan. Standar diturunkan perlahan hingga bangsa kehilangan kemampuan membedakan keunggulan sejati dari sekadar gemerlap. Kemerosotan pun berubah dari penyimpangan menjadi sistem.

Maka Indonesia tidak kekurangan politisi, melainkan kekurangan negarawan: manusia yang mampu berpikir melampaui diri, kelompok, dan musim politiknya. Republik hanya akan pulih ketika kapasitas, integritas, dan kedalaman kembali menjadi ukuran kepemimpinan—agar besarnya amanat sejarah tidak dipikul oleh manusia yang hanya pandai tampil, tetapi tidak sanggup menuntun.

Komentar