JurnalPatroliNews | Gaza — Serangan Israel kembali menghantam wilayah Gaza tengah pada Minggu (23/8/2026). Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas, termasuk seorang anak berusia empat tahun, dalam serangkaian serangan di Al-Zawayda dan kamp pengungsi Nuseirat.
Layanan pertahanan sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas menyebut dua orang tewas dalam serangan di kawasan Al-Zawayda. Salah satu korban merupakan Muhammad Abdel Salam Taha, bocah berusia empat tahun. Beberapa orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan dibawa ke Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah.
Satu korban lainnya dilaporkan tewas dalam serangan berbeda yang menyasar kawasan kamp pengungsi Nuseirat, masih di wilayah Gaza tengah.
Militer Israel membenarkan adanya serangan di wilayah tersebut. Kepada AFP, militer Israel menyatakan salah satu serangan menargetkan seorang yang disebut sebagai “teroris” dan mengatakan informasi lebih lanjut akan disampaikan kemudian.
Reuters melaporkan salah satu serangan menghantam sebuah bangunan di Al-Zawayda setelah sebelumnya terdapat peringatan dari militer Israel kepada pemilik bangunan untuk meninggalkan kawasan tersebut. Serpihan akibat serangan dilaporkan melukai sejumlah orang di sekitar lokasi.
Serangan tersebut kembali menambah ketegangan di Gaza meski kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025 telah mengurangi intensitas kekerasan, tetapi belum sepenuhnya menghentikan serangan.
Data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip AFP menyebut operasi Israel sejak gencatan senjata diberlakukan telah menyebabkan 1.286 warga Palestina tewas.
Angka tersebut berasal dari otoritas kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas. AFP mencatat data tersebut dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), meski angka korban dalam konflik tetap sulit diverifikasi secara independen.
Laporan WAFA juga mencatat bahwa hingga 23 Agustus, jumlah korban tewas di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.420 orang, dengan 174.369 lainnya dilaporkan terluka. Sejak gencatan senjata Oktober 2025, tercatat 1.286 korban tewas dan 4.257 orang terluka menurut sumber medis Gaza.
Sementara itu, militer Israel melaporkan lima tentaranya dan satu kontraktor sipil tewas sejak periode gencatan senjata tersebut, menurut laporan AFP.
Rangkaian serangan terbaru berlangsung ketika upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata masih menghadapi jalan buntu.
Mediator seperti Mesir, Qatar, dan Turki sebelumnya telah menyerukan agar Israel mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan menghindari langkah yang dapat meningkatkan eskalasi. Mereka menilai serangan terbaru dapat mengganggu upaya mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Israel menyatakan operasi militernya diarahkan terhadap ancaman yang dianggap berasal dari kelompok bersenjata di Gaza.
Perbedaan pandangan tersebut membuat situasi di lapangan tetap rentan. Gencatan senjata memang menurunkan skala kekerasan dibandingkan fase perang sebelumnya, tetapi serangan sporadis masih terus terjadi.
Kematian Muhammad Abdel Salam Taha menambah daftar korban anak-anak dalam konflik Gaza.
Kasus tersebut sekaligus menggambarkan risiko yang masih dihadapi warga sipil yang tinggal atau berlindung di sekitar wilayah yang menjadi sasaran operasi militer.
Dengan serangan masih berlangsung di sejumlah lokasi dan proses diplomasi belum menghasilkan kesepakatan final, warga Gaza kembali menghadapi ketidakpastian mengenai keamanan mereka.
Bagi masyarakat sipil, terutama anak-anak dan keluarga yang telah berulang kali mengungsi, berlanjutnya serangan menunjukkan bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya memberikan jaminan keselamatan.















Komentar