JurnalPatroliNews | Jakarta — Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia kembali meningkat pada Selasa, 8 September 2026. Hingga pukul 13.00 WIB, sedikitnya 11 kali erupsi tercatat pada tiga gunung api, yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur.
Sebagian besar erupsi tidak terlihat secara langsung dari permukaan. Namun, aktivitas letusan terekam pada instrumen seismograf yang memantau kegempaan gunung api.
Dari tiga gunung tersebut, Gunung Ibu menjadi yang paling sering mengalami erupsi dengan enam kejadian hingga siang hari. Gunung Anak Krakatau menyusul dengan empat erupsi, sedangkan Gunung Ili Lewotolok tercatat satu kali erupsi pada pagi hari.
Gunung Ibu Erupsi Enam Kali
Gunung Ibu di Maluku Utara menunjukkan aktivitas vulkanik berulang sejak lewat tengah malam.
Erupsi pertama tercatat pada 00.36 WIT dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi 54 detik. Aktivitas kembali terekam pada 09.07 WIT dengan amplitudo maksimum 15 milimeter selama 42 detik.
Selang sekitar 10 menit kemudian, tepatnya pukul 09.17 WIT, Gunung Ibu kembali mengalami erupsi dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi 60 detik.
Aktivitas belum berhenti. Letusan berikutnya terjadi pada:
- 11.13 WIT, amplitudo maksimum 28 mm, durasi 40 detik;
- 11.40 WIT, amplitudo maksimum 28 mm, durasi 48 detik;
- 12.01 WIT, amplitudo maksimum 28 mm, durasi 44 detik.
Seluruh kejadian erupsi tersebut tidak teramati secara visual dan diketahui berdasarkan rekaman instrumen kegempaan. Data serupa terkait erupsi Gunung Ibu pada pagi hingga siang 8 September 2026 juga dilaporkan berdasarkan informasi PVMBG/MAGMA Indonesia.
Anak Krakatau Empat Kali Meletus
Di Selat Sunda, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga kembali tercatat beberapa kali.
Hingga pukul 13.00 WIB, gunung api tersebut telah mengalami empat kali erupsi, masing-masing pada:
05.08 WIB, amplitudo maksimum 47 mm dengan durasi 15 detik.
Kemudian pada 05.34 WIB, amplitudo maksimum mencapai 44 mm dengan durasi 10 detik.
Erupsi berikutnya berlangsung pada 07.49 WIB, dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik.
Sementara erupsi keempat terjadi pada 11.34 WIB, dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 17 detik.
Keempat letusan tersebut juga tidak teramati secara visual.
Aktivitas Anak Krakatau memang masih menjadi perhatian pemerintah setelah gunung api tersebut mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026. PVMBG sebelumnya menegaskan tingkat aktivitas Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
Ili Lewotolok Semburkan Abu 800 Meter
Berbeda dengan Gunung Ibu dan Anak Krakatau, aktivitas Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa pagi sempat terlihat secara visual.
Erupsi tercatat pada 06.35 WITA. Letusan menghasilkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang teramati mencapai sekitar 800 meter di atas puncak, atau sekitar 2.223 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu bergerak ke arah barat.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter. Data PVMBG yang diberitakan sejumlah media juga mencatat erupsi pada pukul 06.35 WITA dengan kolom abu sekitar 800 meter dan pergerakan ke arah barat.
Tiga Gunung, 11 Erupsi
Jika seluruh kejadian tersebut dihitung hingga pukul 13.00 WIB, aktivitas vulkanik pada tiga gunung api mencapai 11 kali erupsi dalam satu hari.
Gunung Ibu menyumbang enam kejadian, Anak Krakatau empat kejadian, sementara Ili Lewotolok satu kejadian.
Meski berlangsung pada gunung api yang berbeda dan wilayah yang berjauhan, aktivitas tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya satu sumber penyebab yang sama. Setiap gunung api memiliki sistem magmatik dan karakter aktivitas masing-masing.
Karena itu, masyarakat tidak perlu mengaitkan erupsi sejumlah gunung tersebut secara otomatis sebagai fenomena saling memicu.
Warga Diminta Patuhi Zona Aman
Masyarakat dan wisatawan yang berada di sekitar kawasan Gunung Ili Lewotolok diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api.
Rekomendasi zona aman dari PVMBG serta pemerintah daerah perlu menjadi rujukan utama dalam menentukan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana.
Informasi mengenai potensi sebaran abu vulkanik juga penting diperhatikan, terutama bagi masyarakat maupun sektor penerbangan yang berada di jalur terdampak.
AirNav Indonesia sendiri menyatakan sebaran abu vulkanik Ili Lewotolok menjadi perhatian dalam keselamatan penerbangan dan terus dipantau bersama pemangku kepentingan terkait.
Aktivitas Vulkanik Masih Dinamis
Rangkaian erupsi pada Selasa ini menunjukkan bahwa dinamika gunung api di Indonesia masih tinggi.
Gunung Ibu terus mencatat letusan berulang, Anak Krakatau masih dalam pemantauan ketat setelah episode erupsi menerus beberapa hari sebelumnya, sementara Ili Lewotolok kembali menyemburkan kolom abu ke udara.
Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada. Informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi menjadi rujukan utama untuk mengetahui perubahan aktivitas, rekomendasi zona bahaya, serta potensi dampak erupsi.
Hingga pukul 13.00 WIB, catatannya jelas: tiga gunung api aktif, 11 kali erupsi, dan aktivitas vulkanik masih terus dipantau.














Komentar