Konflik AS-Iran hingga Erupsi Anak Krakatau, Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan

JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar rupiah sempat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi, 8 September 2026. Namun, penguatan tersebut belum serta-merta menghapus tekanan yang membayangi mata uang Garuda.

Mengacu data Bloomberg hingga pukul 09.35 WIB, rupiah berada di level Rp17.615 per dolar AS, menguat 25 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Di tengah penguatan tersebut, pelaku pasar justru menghadapi sejumlah risiko eksternal dan domestik. Eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran, potensi gangguan jalur energi global, hingga dampak erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi faktor yang ikut diperhitungkan pasar.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah tetap rentan berbalik arah.

Konflik AS-Iran Jadi Risiko Utama

Salah satu perhatian terbesar pasar berasal dari meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran.

Ibrahim mengatakan eskalasi konflik tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur perdagangan dan distribusi energi dunia, khususnya melalui Selat Hormuz.

Menurut dia, militer AS sebelumnya menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran setelah pasukan Iran menargetkan kapal Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.

Iran kemudian menyatakan telah menyerang drone milik Angkatan Laut AS dan memperingatkan bahwa serangan berikutnya dari Washington dapat memicu respons yang lebih keras.

Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap arus perdagangan internasional sekaligus memperbesar tekanan terhadap harga energi.

Hormuz Jadi Titik Rawan

Selat Hormuz menjadi perhatian karena merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

“Eskalasi ini memicu kekhawatiran bahwa pelayaran komersial dan arus energi yang melewati Hormuz dapat menghadapi gangguan lebih lanjut,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Ia menyebut sekitar seperlima konsumsi minyak global biasanya melewati kawasan tersebut.

Data perusahaan analitik Kpler juga menunjukkan aktivitas pelayaran pengangkut komoditas telah turun menjadi sekitar 10 kapal per hari, disebut sebagai level terendah sejak Mei.

Bila gangguan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap harga minyak dan biaya logistik global berpotensi meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk rupiah.

Erupsi Anak Krakatau Ikut Jadi Perhatian

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang sejak Jumat malam, 4 September 2026, mengganggu berbagai aktivitas masyarakat dan sektor transportasi.

Erupsi dan sebaran abu vulkanik sebelumnya menyebabkan gangguan besar pada penerbangan. Reuters melaporkan lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak di sejumlah bandara.

Bandara Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara lainnya kemudian kembali dibuka setelah kondisi abu membaik, tetapi aktivitas penerbangan tetap dipantau karena Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Selasa pagi.

Gangguan transportasi tersebut menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya terhadap mobilitas penumpang, tetapi juga terhadap kelancaran distribusi barang dan rantai pasok.

Risiko Ekonomi Domestik Bertambah

Ibrahim menilai berbagai bencana yang berlangsung bersamaan membuat risiko ekonomi domestik menjadi semakin kompleks.

Selain erupsi Anak Krakatau, ia menyoroti kebakaran lahan gambut di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra serta kondisi mengeringnya Sungai Barito yang dapat mengganggu aktivitas transportasi batu bara.

“Hal ini turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok,” tuturnya.

Jika gangguan logistik berlangsung lebih panjang, aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah dapat ikut melambat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan pelaku pasar ketika menilai prospek rupiah.

Ujian Kebijakan Moneter Indonesia

Di tengah berbagai tekanan tersebut, pekan ini juga dinilai menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia.

Ibrahim mengatakan pemerintah dan otoritas moneter menghadapi tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa menciptakan volatilitas rupiah yang berlebihan.

“Pekan ini sepertinya menjadi ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing,” ujarnya.

Risiko keluarnya modal asing menjadi perhatian karena ketidakpastian global dapat mendorong investor meningkatkan porsi aset yang dianggap lebih aman.

Pasar Menunggu Data Domestik

Selain konflik geopolitik dan perkembangan bencana, investor juga bersiap menghadapi sejumlah rilis data ekonomi penting Indonesia.

Ibrahim menyebut pasar akan mencermati data cadangan devisa Agustus, tingkat keyakinan konsumen, serta penjualan ritel periode Juli.

Data tersebut akan menjadi tambahan indikator untuk membaca kekuatan fundamental ekonomi domestik sekaligus arah kebijakan moneter ke depan.

Di sisi lain, pasar global juga tetap memperhatikan data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Rupiah Diprediksi Kembali Melemah

Meski pagi hari rupiah sempat berada di Rp17.615 per dolar AS, Ibrahim memperkirakan mata uang Garuda masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Selasa.

Ia memproyeksikan rupiah berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.640 hingga Rp17.680 per dolar AS. Proyeksi tersebut juga diberitakan dalam analisis pasar pada Selasa, 8 September 2026.

Artinya, penguatan rupiah pada pagi hari belum dapat dibaca sebagai perubahan tren yang solid.

Pasar Berhadapan dengan Banyak Risiko

Pergerakan rupiah hari ini pada akhirnya berada di persimpangan sejumlah faktor.

Di satu sisi, rupiah mampu menguat tipis pada awal perdagangan. Namun di sisi lain, pasar masih menghadapi ketegangan AS-Iran yang berpotensi mengganggu jalur energi, dampak erupsi Anak Krakatau terhadap transportasi dan logistik, serta berbagai risiko domestik lainnya.

Karena itu, ruang pergerakan rupiah diperkirakan tetap lebar.

Rupiah memang sempat menguat ke Rp17.615 per dolar AS, tetapi pasar belum bisa bernapas lega. Geopolitik Timur Tengah, gangguan logistik akibat erupsi, dan data ekonomi yang segera dirilis masih menjadi faktor penentu arah rupiah hingga penutupan perdagangan.

Komentar