Keberanian Tampil Beda

Yudi Latif

Coba perhatikan pemuda eksentrik dalam foto itu: topi bertengger di kepala, syal batik melingkar di leher. Adakah yang mengenalinya?

Foto tersebut diabadikan ketika pemuda itu baru memasuki dunia perkuliahan pada pertengahan dekade 1980-an. Entah apa yang sedang berputar di kepalanya saat itu—ideologi, estetika, pencarian identitas, atau sekadar hasrat sederhana untuk tampil berbeda. Yang jelas, topi dan syal batik itu dikenakannya dengan keyakinan yang mungkin jauh lebih besar daripada pengetahuannya tentang dunia.

Di tengah teman-teman kuliah yang berpakaian beragam, tetapi masih berada dalam batas kewajaran mode zamannya, pemuda itu memilih sedikit keluar jalur. Tak ada manifesto, apalagi rapat rahasia. Hanya selembar batik dan sebuah topi yang bagi sebagian orang mungkin terlihat ganjil.

Begitulah eksentrisitas: keberanian melangkah sedikit keluar dari garis kewajaran—dalam cara berpakaian, berpikir, memilih bacaan, ataupun sekadar berani mengatakan, “Mungkin saya melihatnya dari sudut yang berbeda.”

John Stuart Mill pernah mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan ruang bagi orang-orang eksentrik. Dari ruang semacam itulah kreativitas, kekuatan mental, dan keberanian moral dapat tumbuh. Masyarakat yang terlalu takut melampaui batas kewajaran mungkin terasa aman dan nyaman, tetapi belum tentu cukup subur untuk melahirkan gagasan-gagasan baru.

Namun, tampil berbeda tentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih baik. Topi yang miring tidak menjamin pikiran menjadi tegak. Syal batik pun tidak serta-merta menjadikan pemakainya seorang pemikir. Kalau kebijaksanaan bisa diperoleh sesederhana itu, barangkali toko pakaian sudah menjualnya lengkap dengan aksesori.

Ketika foto itu dipandang kembali bertahun-tahun kemudian, ada sesuatu yang terasa lucu sekaligus hangat. Entah pemuda itu sedang mencari jati diri atau sekadar memastikan syalnya tidak terbuang percuma, sesungguhnya ia sedang belajar satu hal penting: hidup tidak selalu harus dijalani mengikuti garis yang telah dibuat orang lain.

Menjadi berbeda bukan berarti harus selalu menentang. Berani tampil beda bukan pula kewajiban untuk terus-menerus mencari perhatian. Perbedaan yang bermakna justru lahir ketika seseorang berani mengenali pikirannya sendiri, memahami keyakinannya, lalu bersedia menanggung konsekuensi dari pilihan yang dibuatnya.

Syal batik itu kini seperti tanda baca dari sebuah masa. Ia mengingatkan pada zaman ketika seorang anak muda sedang belajar membaca dunia, sekaligus mencoba menuliskan kalimatnya sendiri. Ada kemungkinan banyak pilihannya keliru. Sangat mungkin pula sebagian tampak konyol jika dilihat dengan ukuran hari ini.

Tetapi bukankah proses menjadi dewasa memang penuh dengan percobaan yang tidak selalu sempurna?

Kita sering hidup dalam masyarakat yang diam-diam menyukai keseragaman. Berbeda sedikit saja sudah cukup untuk mengundang tatapan, bisikan, bahkan penilaian. Orang yang terlalu berbeda dianggap aneh; orang yang terlalu lantang dianggap merepotkan; orang yang memilih jalan sendiri kerap dipertanyakan.

Padahal, kemajuan sering kali bermula dari mereka yang bersedia bertanya mengapa sesuatu harus selalu dilakukan dengan cara yang sama.

Karena itu, keberanian tampil beda sesungguhnya bukan perkara pakaian. Ia adalah keberanian menjaga ruang batin agar tidak seluruhnya ditentukan oleh penilaian orang lain.

Pada akhirnya, eksentrisitas bukanlah tujuan. Ia hanya salah satu cara untuk menemukan jalan sendiri. Yang lebih penting bukan seberapa berbeda kita terlihat, melainkan seberapa jujur kita menjalani pilihan dan seberapa bertanggung jawab kita terhadap konsekuensinya.

Syal batik itu boleh jadi dulu hanya aksesori sederhana. Tetapi hari ini, ia seperti sebuah tanda kecil yang mengingatkan: dalam perjalanan hidup, kita perlu keberanian untuk sesekali keluar dari garis.

Tidak apa-apa jika tidak persis seperti yang lain.

Dan jika sesekali dianggap aneh, barangkali cukup tersenyum.

Toh, dunia sudah cukup penuh dengan orang yang berusaha terlihat sama.

Komentar