Dari Daun Jadi Duit: Kambing Perah Senjata Desa Lawan Stunting

Oleh: Agus Santoso
Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi | Pelaku Sociopreneur

Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi desa.

Data SSGI 2023 menunjukkan bahwa 21,5 persen anak balita di Indonesia masih mengalami stunting. Di desa, angkanya mungkin saja lebih tinggi. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan asupan protein hewani dan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Selama ini, solusi yang banyak dilakukan antara lain pemberian makanan tambahan (PMT), susu formula, dan vitamin.

Bagus. Namun, persoalannya, program tersebut bisa berhenti ketika bantuan juga berhenti.

Padahal, kita bisa membangun solusi yang dapat berjalan secara berkelanjutan, diproduksi sendiri oleh desa, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat desa.

Program tersebut adalah beternak kambing perah secara komunal.

1. Kenapa Harus Kambing Perah?

Kambing perah merupakan “mesin gizi” yang dapat memproduksi susu segar setiap hari.

Pertama, produksi susu rutin. Satu ekor kambing perah unggul, misalnya jenis Sapera—hasil persilangan antara kambing Saanen dari Eropa dan Peranakan Etawa dari Asia—bisa menghasilkan rata-rata 3 liter susu per hari.

Kedua, skala ekonomi desa. Cukup dengan memelihara 60 ekor induk. Dengan sistem manajemen kandang yang baik, setiap hari akan ada sekitar 20 ekor induk yang berada dalam masa laktasi.

Artinya, desa memiliki potensi produksi sekitar 60 liter susu segar per hari.

Jika dikemas dalam ukuran 100 mililiter, jumlah tersebut setara dengan 600 botol susu per hari yang dapat dibagikan secara gratis kepada balita dan ibu hamil.

Gratis, rutin, dan segar.

Ketiga, tabungan hidup. Kambing perah bukan hanya penghasil susu. Komunitas peternak juga memiliki investasi yang layaknya sebuah tabungan.

Pada umumnya, kambing perah dapat beranak dua ekor dalam satu kelahiran atau bersifat prolifik. Anak kambing yang memiliki kualitas bagus dapat dijual sebagai bibit kambing perah.

Dengan demikian, komunitas kambing perah unggul dapat dikembangkan menjadi breeding centre atau pusat pembibitan yang menyediakan bibit unggul.

Sementara itu, kotoran kambing dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dibutuhkan untuk memperkuat pertanian desa.

Kambing afkir juga dapat dimanfaatkan sebagai kambing pedaging untuk digemukkan menjadi kambing potong, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun keperluan ibadah seperti akikah, kurban, dan dam.

Jadi, kambing perah memiliki setidaknya empat fungsi ekonomi yang dapat menghasilkan nilai tambah.

2. Modalnya Murah, Bahan Pakannya Ada di Sekitar

Inilah yang membuat konsep beternak kambing perah masuk akal untuk dikembangkan di desa.

Pakan tersedia melimpah. Kambing merupakan ruminansia yang memakan hijauan dan daun-daunan. Banyak jenis dedaunan yang tersedia di desa dapat dimanfaatkan sebagai pakan.

Rumput, kaliandra, indigofera, lamtoro, daun singkong, daun pisang, dan berbagai jenis hijauan lainnya dapat menjadi sumber pakan.

Pakan hijauan tersebut juga dapat difermentasi sehingga peternak tidak harus selalu mencari atau “ngarit” setiap hari. Hijauan yang telah difermentasi dapat disimpan sebagai persediaan pakan hingga sekitar tiga bulan.

Asupan pakan lainnya dapat berasal dari limbah yang harganya relatif murah, seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, dedak padi, janggel jagung, dan berbagai jenis pakan tambahan lainnya yang secara tradisional telah dipahami oleh para peternak di desa.

Bisa juga dimanfaatkan sampah makanan dari kemasan produk pabrikan atau industrial food waste yang sudah kedaluwarsa (expired) untuk didaur ulang menjadi pakan ternak yang murah dan berkualitas tinggi.

Artinya, beternak kambing perah secara tidak langsung akan mendorong peternak desa untuk menanam tanaman pakan.

Desa harus menanam dan memiliki “kebun pakan” di lahan tidur, pinggiran desa, bantaran sungai, maupun pekarangan.

Intinya, beternak kambing juga mendorong gerakan penghijauan desa.

Modal utamanya hanya dua: bibit unggul dan tekad menanam pakan hijauan.

Beternak kambing perah unggul menjadi penting karena dapat menjamin volume dan kualitas produksi susu sekaligus menjaga kesinambungan kualitas ternak.

Selain itu, kambing perah unggul hasil seleksi dapat menurunkan sifat genetik atau DNA indukan yang memiliki kemampuan beranak kembar atau prolifik. Dengan demikian, kelompok peternak dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Dari sinilah konsep Daun Jadi Duit bekerja.

Daun menjadi susu. Dari susu kambing lahir anak yang sehat.

Kotoran menjadi pupuk, dan dengan pupuk tersebut pertanian dapat menghasilkan panen yang lebih berlimpah.

Anak kambing yang lahir kembar menjadi tabungan yang terus membesar.

3. Dampaknya: Tiga Ketahanan Sekaligus

Program 60 ekor indukan kambing perah di satu desa bukan sekadar peternakan biasa.

Ini adalah sebuah sistem.

1. Ketahanan Gizi

Produksi 600 botol susu berukuran 100 mililiter per hari setara dengan 18.000 botol per bulan.

Jumlah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi balita dan ibu hamil di satu desa.

Ini merupakan intervensi gizi yang relatif mudah, murah, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

2. Ketahanan Ekonomi

Produksi susu kambing dapat diarahkan untuk membantu mengatasi persoalan stunting.

Jika produksi susu berlebih, hasilnya dapat dijual melalui koperasi, warung di kota, maupun kepada industri susu bubuk.

Breeding centre bibit unggul juga memiliki daya jual bagi kelompok peternak lain sebagai sumber bloodline baru untuk membantu mengatasi persoalan inbreeding.

Pupuk kambing dapat digunakan sebagai insentif bagi pekerja yang mengurus ternak. Jika produksinya berlebih, pupuk tersebut juga dapat dijual.

Koperasi desa pun memiliki potensi untuk mengembangkan produk unggulan baru, seperti menjual susu kambing, pakan, dan pupuk kambing.

Dengan demikian, uang semakin banyak berputar di desa.

3. Ketahanan Lingkungan

Insentif lain dari keberadaan kelompok peternak kambing perah adalah munculnya kebutuhan untuk menanam pakan hijauan.

Lahan kritis dapat diubah menjadi kebun pakan. Desa menjadi lebih hijau sekaligus memiliki cadangan pakan sepanjang tahun.

Ini jelas bukan sekadar konsep charity.

Ini adalah konsep sociopreneurship.

Desa tidak harus selalu menunggu bantuan.

Desa dapat memproduksi solusinya sendiri.

4. Apa yang Dibutuhkan?

Pemerintah, BUMDes, dan koperasi cukup melakukan tiga hal.

1. Bantuan Bibit Unggul

Program 60 ekor kambing perah Sapera unggul per desa.

Bukan dibagikan kepada perorangan, tetapi dikelola secara kolektif oleh kelompok peternak, BUMDes, atau koperasi peternak.

2. Pendamping Teknis

Diperlukan pelatihan mengenai SOP breeding, SOP pemerahan susu yang higienis, serta manajemen pakan.

Hal ini penting karena susu harus memiliki kualitas dan keamanan yang baik untuk dikonsumsi oleh balita dan ibu hamil.

3. Pasar dan Hilirisasi

Kembangkan “susu kambing” dalam kemasan.

Bekerja sama dengan BUMDes dan koperasi untuk mendistribusikannya kepada ibu hamil dan balita di desa.

Jika terdapat produksi berlebih, sisanya dapat dijual.

Biaya penguatan gizi bisa jauh lebih murah dibandingkan biaya membangun satu gedung puskesmas baru.

Namun, dampaknya dapat langsung menyentuh tiga aspek sekaligus: penguatan gizi, peningkatan ekonomi, dan terjaganya lingkungan hidup.

Gizi Ada di Kandang Kambing Perah

Upaya pemenuhan gizi balita dan ibu hamil ternyata bisa disediakan dari kandang kambing perah.

Didukung kebun pakan dan dikelola oleh kelompok bapak-ibu peternak kambing perah di desa, kandang kambing dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sekaligus ketahanan gizi masyarakat.

Kambing Perah Unggul

Kambing Sapera bukan ternak biasa.

Ia bisa menjadi pabrik protein hewani desa.

Ia memproduksi susu bergizi setiap hari dan memproduksi uang setiap 10 bulan, sekaligus mendorong kita untuk menanam pakan hijauan di desa yang menghasilkan oksigen setiap hari.

Sudah saatnya kita berhenti berbicara tentang perang melawan stunting hanya melalui slide presentasi.

Saatnya kita berbicara tentang bagaimana menghilangkan stunting dari bumi Indonesia dengan sebotol susu kambing 100 mililiter setiap pagi.

Dari daun jadi susu kambing. Dari susu jadi generasi sehat.

Itu baru namanya ketahanan pangan yang sesungguhnya.

Komentar