Perang Timur Tengah Memanas, Xi Jinping Kirim Pesan Tegas dari KTT BRICS

JurnalPatroliNews | New Delhi — Presiden China Xi Jinping menjadikan panggung KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, sebagai momentum untuk mendorong kelompok negara berkembang mengambil peran lebih besar dalam meredam konflik di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS, Xi menilai perang di kawasan tersebut justru menimbulkan kehancuran luas dan tidak membawa manfaat bagi kepentingan bersama masyarakat internasional.

“Seiring situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk terus berkembang, perang di sana telah mengakibatkan kehancuran besar bagi masyarakat di seluruh kawasan,” kata Xi, dikutip AFP, Sabtu (12/9/2026).

Pernyataan itu disampaikan ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut hadir dalam forum BRICS di New Delhi. Konflik Timur Tengah menjadi salah satu isu utama yang mendapat perhatian dalam pertemuan tahun ini, bersamaan dengan perang Ukraina dan berbagai persoalan ekonomi global.

Xi Dorong BRICS Jadi Penengah

Xi tidak hanya mengkritik dampak perang, tetapi juga menyerukan agar BRICS memainkan peran lebih aktif sebagai kekuatan yang mendorong perdamaian.

Menurut Xi, China siap bekerja bersama negara-negara anggota BRICS untuk membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan konflik diselesaikan melalui jalur diplomasi.

“Ini tidak melayani kepentingan bersama komunitas internasional,” ujar Xi.

Seruan tersebut datang ketika BRICS tengah menghadapi ujian politik akibat perang yang melibatkan Iran. Komposisi kelompok yang kini semakin besar membuat sikap bersama terhadap isu geopolitik menjadi semakin kompleks.

BRICS saat ini beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran dan Uni Emirat Arab. Keberadaan Iran dan UEA dalam satu kelompok membuat forum tersebut memiliki kepentingan dan posisi yang beragam terhadap konflik Timur Tengah.

Deklarasi New Delhi Serukan Penahanan Diri

Seruan Xi tersebut sejalan dengan deklarasi bersama BRICS yang disepakati pada hari pertama KTT New Delhi.

Dalam deklarasi tersebut, para pemimpin BRICS menyatakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan menyerukan “maximum restraint” atau penahanan diri secara maksimal.

BRICS juga menegaskan pentingnya penyelesaian sengketa internasional melalui dialog, konsultasi dan diplomasi.

Kesepakatan itu menunjukkan bahwa meski memiliki kepentingan geopolitik yang berbeda, negara-negara BRICS masih berusaha mempertahankan ruang bersama untuk mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Konflik Timur Tengah Uji Kekompakan BRICS

Perang di Timur Tengah menjadi salah satu ujian paling serius bagi BRICS setelah kelompok tersebut memperluas keanggotaannya.

Bertambahnya anggota memang memperbesar bobot BRICS dalam politik dan ekonomi global. Namun, pada saat yang sama, perbedaan kepentingan antaranggota membuat penyusunan posisi bersama terhadap konflik internasional menjadi lebih rumit.

Karena itu, dorongan Xi agar BRICS tampil sebagai kekuatan perdamaian dapat dibaca sebagai upaya memperluas peran forum tersebut, bukan hanya sebagai kelompok ekonomi negara berkembang, tetapi juga sebagai salah satu kanal diplomasi global.

China Ingin Peran Global South Makin Besar

Dalam pidatonya, Xi juga menempatkan BRICS sebagai salah satu kelompok penting bagi negara-negara Global South.

Menurutnya, BRICS dapat menjadi contoh kerja sama dan kemandirian bagi negara-negara berkembang sekaligus mendorong pembangunan berbasis inovasi.

China dijadwalkan mengambil alih kepemimpinan BRICS pada 2027 dan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19. Pergantian kepemimpinan tersebut berpotensi menjadi momentum bagi Beijing untuk semakin memperkuat agenda kerja sama politik dan ekonomi negara-negara berkembang.

Pesan Xi di Tengah Krisis Energi dan Perdagangan

Konflik Timur Tengah tidak hanya menghasilkan korban dan kehancuran, tetapi juga membawa konsekuensi lebih luas terhadap stabilitas kawasan, jalur perdagangan dan energi global.

Karena itu, desakan Xi untuk menghentikan eskalasi juga memiliki dimensi ekonomi. Stabilitas Timur Tengah berkaitan langsung dengan keamanan energi serta kelancaran jalur perdagangan internasional.

Di tengah kondisi tersebut, BRICS mencoba menunjukkan bahwa persoalan keamanan global tidak dapat dipisahkan dari stabilitas ekonomi.

Bagi China, posisi tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa negara-negara berkembang perlu memiliki suara lebih besar dalam menentukan arah penyelesaian persoalan internasional.

KTT BRICS di New Delhi akhirnya tidak hanya menjadi forum membahas ekonomi dan perdagangan. Konflik Timur Tengah justru menempatkan diplomasi perdamaian di pusat perhatian.

Xi Jinping pun mempertegas posisi China: perang yang terus berlangsung tidak memberikan keuntungan bagi masyarakat internasional, sementara BRICS didorong mengambil peran lebih besar untuk membuka jalan menuju dialog dan penyelesaian damai.

Komentar