Rupiah Jatuh ke Rp17.725, Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed Membayangi

JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dalam laporan pasar, rupiah bergerak di level Rp17.725 per dolar AS, melemah 31 poin atau sekitar 0,18 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.694 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika pasar global tengah menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed. Pada saat bersamaan, kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik ikut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi.

Bloomberg Technoz mencatat rupiah bahkan sempat bergerak di sekitar Rp17.730 per dolar AS pada perdagangan pagi, sementara harga minyak Brent berada di atas US$108 per barel.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Menurut dia, ekspektasi pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga. Reuters juga melaporkan mayoritas ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

The Fed Jadi Penentu Sentimen Pasar

Keputusan The Fed menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika suku bunga AS dinaikkan, aset berdenominasi dolar berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arus modal global dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Ibrahim mengatakan sebagian analis memperkirakan kenaikan suku bunga dengan probabilitas tinggi. Namun, ia masih melihat adanya kemungkinan The Fed mempertahankan tingkat suku bunga.

Pandangan tersebut berkaitan dengan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam sejumlah kesempatan sebelumnya mengenai tingkat suku bunga dan risiko inflasi.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan tekanan inflasi masih menjadi perhatian. Reuters melaporkan pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan kisaran target 3,75 persen hingga 4 persen.

Harga Energi Jadi Tekanan Kedua

Selain kebijakan moneter AS, harga energi menjadi faktor lain yang membebani pasar.

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, terutama ketika harga energi memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap biaya produksi dan distribusi.

Bloomberg Technoz melaporkan harga Brent telah menyentuh US$108,75 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$105,42 per barel pada perdagangan Rabu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena inflasi yang kembali meningkat dapat membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Dengan demikian, pasar menghadapi dua tekanan yang saling berkaitan, yakni meningkatnya harga energi dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.

Gejolak Geopolitik Perbesar Risiko

Pergerakan harga energi juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan geopolitik global.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan distribusi energi dunia. Risiko geopolitik yang meningkat dapat mendorong harga minyak sekaligus memperbesar volatilitas pasar keuangan.

Situasi tersebut kemudian menjadi perhatian investor karena kenaikan harga minyak dapat memperumit upaya bank sentral dalam mengendalikan inflasi.

Bagi Indonesia, tekanan eksternal tersebut dapat tercermin melalui pergerakan rupiah, pasar saham, serta arus modal asing.

Arus Modal Jadi Perhatian

Ibrahim menilai arah kebijakan The Fed akan memiliki konsekuensi terhadap pergerakan dana global.

Jika suku bunga AS naik, sebagian investor dapat mengalihkan dana ke aset Amerika Serikat karena imbal hasil dolar menjadi relatif lebih menarik. Dalam kondisi tersebut, pasar keuangan negara berkembang dapat menghadapi tekanan.

Sebaliknya, apabila The Fed memilih mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat sedikit mereda. Namun, besarnya pengaruh terhadap rupiah tetap bergantung pada kondisi pasar global dan faktor domestik.

“Dampaknya ini pun juga akan berdampak positif terhadap penguatan mata uang Rupiah ke depan, walaupun penguatannya terbatas,” kata Ibrahim.

Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Pertemuan FOMC berlangsung pada 15-16 September 2026, dengan keputusan kebijakan dijadwalkan pada 16 September waktu AS. Agenda tersebut tercatat dalam kalender resmi Federal Reserve.

Pasar kini menunggu bukan hanya keputusan mengenai suku bunga, tetapi juga sinyal mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Reuters mencatat pasar telah memperkirakan kenaikan suku bunga dan masih mempertimbangkan kemungkinan pengetatan lebih lanjut.

Bagi rupiah, keputusan tersebut menjadi salah satu katalis penting dalam menentukan arah perdagangan berikutnya.

Dengan posisi rupiah yang kembali berada di kisaran Rp17.700-an per dolar AS, pelaku pasar harus mencermati kombinasi kebijakan The Fed, pergerakan harga energi, kondisi geopolitik, serta perkembangan arus modal global.

Tekanan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan faktor domestik, tetapi juga sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan dan sentimen di pasar global.

Komentar