Harga Emas Mendadak Berbalik Arah, Keputusan The Fed Jadi Pemicu

JurnalPatroliNews | Jakarta — Harga emas dunia langsung berbalik arah setelah Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan dan memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter masih mungkin berlanjut.

Penguatan dolar AS setelah keputusan The Fed menjadi salah satu faktor yang menekan harga logam mulia. Emas spot bahkan merosot lebih dari 1 persen setelah sebelumnya sempat mencetak kenaikan tajam dalam perdagangan.

Mengacu pada data Reuters, harga emas spot turun 1,2 persen menjadi US$4.240,10 per ons pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$4.365,57 per ons.

Sebaliknya, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember justru ditutup menguat 1,3 persen ke level US$4.387,50 per ons.

The Fed Naikkan Bunga 25 Basis Poin

Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen-4,00 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh para pembuat kebijakan The Fed.

Kenaikan itu menjadi perubahan penting dalam arah kebijakan moneter AS. The Fed juga memberikan sinyal bahwa suku bunga masih berpotensi kembali dinaikkan untuk memastikan tekanan inflasi bergerak menuju target bank sentral.

Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan mayoritas besar pejabat masih memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi perhatian utama bank sentral.

Menurut Warsh, tekanan inflasi masih terlalu tinggi dan perkembangan harga belum menunjukkan perbaikan yang cukup untuk membuat The Fed mengendurkan perhatian terhadap inflasi.

Dolar AS Menguat, Emas Tertekan

Respons pasar terlihat cepat setelah keputusan tersebut diumumkan.

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Pada saat yang sama, kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.

Kombinasi penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga lebih tinggi tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap harga emas.

Reuters mencatat emas sempat naik lebih dari 1 persen dalam sesi perdagangan sebelum akhirnya berbalik turun setelah keputusan The Fed.

Logam Mulia Lain Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya terjadi pada emas.

Harga perak spot turun 1,7 persen menjadi US$62,57 per ons. Platinum juga melemah 2,3 persen ke US$1.735,33 per ons, sedangkan paladium turun 1,5 persen menjadi US$1.269,95 per ons.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS turut memengaruhi pasar logam mulia secara lebih luas.

Harga Minyak Brent Turut Melemah

Di pasar energi, harga minyak Brent juga mengalami tekanan.

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan minyak adalah meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah setelah muncul laporan mengenai tambahan pasokan minyak Arab Saudi melalui Oman.

Persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang turun lebih kecil dari perkiraan turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Pasar Kini Menanti Langkah The Fed Berikutnya

Keputusan The Fed tidak hanya mengubah arah perdagangan emas pada hari itu, tetapi juga meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.

Reuters melaporkan Goldman Sachs bahkan mengubah proyeksinya dan kini memperkirakan The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga pada Oktober 2026.

Bagi pasar emas, perkembangan tersebut menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena arah suku bunga, pergerakan dolar AS, dan ekspektasi inflasi merupakan sejumlah variabel yang dapat memengaruhi daya tarik logam mulia.

Dengan demikian, setelah sempat mencetak penguatan dalam sesi perdagangan, emas kini menghadapi tekanan baru dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Komentar