Prabowo-Pramono Disebut dalam Bursa 2029, Ini Sikap Gerindra dan PDIP

JurnalPatroliNews | Jakarta — Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai diwarnai sejumlah wacana mengenai kemungkinan pasangan calon. Salah satu isu yang kembali mencuat adalah kemungkinan Presiden Prabowo Subianto berpasangan dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Wacana tersebut menguat setelah Prabowo dan Pramono tampil bersama dalam peresmian LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai, Rabu (16/9/2026). Kedekatan keduanya kemudian menjadi bahan pembicaraan di tengah dinamika politik nasional menuju Pemilu 2029.

Namun, hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari Partai Gerindra maupun PDI Perjuangan yang menetapkan Prabowo-Pramono sebagai pasangan untuk Pilpres 2029.

Bermula dari Kedekatan di Pemerintahan

Prabowo dan Pramono berada dalam posisi berbeda secara politik. Prabowo merupakan Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden RI, sementara Pramono merupakan kader PDI Perjuangan yang saat ini menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Dalam sejumlah kesempatan, keduanya menunjukkan komunikasi yang relatif terbuka dalam urusan pemerintahan.

Saat peresmian LRT Jakarta, Prabowo bahkan menyinggung perbedaan latar belakang politik dirinya dengan Pramono.

Prabowo menyebut keduanya berasal dari partai yang bersaing, tetapi tetap dapat bekerja sama secara profesional dalam menjalankan pemerintahan.

Pernyataan tersebut kemudian kembali dikaitkan dengan pembicaraan mengenai konfigurasi politik 2029.

Gerindra Sebut Pertemuan Bukan Manuver Politik

Partai Gerindra menyatakan kedekatan Prabowo dan Pramono dalam agenda peresmian LRT tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai manuver politik untuk Pilpres 2029.

Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mengatakan pertemuan tersebut berlangsung dalam konteks tugas pemerintahan, yakni koordinasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Meski demikian, Gerindra juga menyatakan terbuka untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai kekuatan politik, termasuk PDI Perjuangan.

Sikap tersebut membuat kemungkinan kerja sama politik kedua partai tetap menjadi bagian dari dinamika yang berkembang, meski belum dapat disebut sebagai kesepakatan pencalonan.

PDIP Belum Buka Kartu

Dari sisi PDI Perjuangan, wacana Prabowo-Pramono juga belum mendapatkan kepastian.

Juru Bicara DPP PDIP Aryo Seno Bagaskoro menyatakan partainya tidak ingin terburu-buru menentukan arah koalisi maupun figur yang akan diusung pada Pilpres 2029.

Menurutnya, keputusan mengenai calon pemimpin dan kerja sama politik membutuhkan proses serta pertimbangan yang matang.

Sementara itu, politikus PDIP Aria Bima juga menyebut dinamika politik menuju 2029 masih sangat cair sehingga berbagai kemungkinan masih terbuka.

Dengan demikian, nama Pramono saat ini masih berada dalam ruang pembahasan politik, bukan sebagai calon wakil presiden yang telah ditetapkan.

Pernah Muncul Sejak Awal 2026

Wacana mengenai kemungkinan Prabowo dan Pramono berpasangan sebenarnya bukan baru muncul setelah peresmian LRT.

Pada Februari 2026, Prabowo pernah menyampaikan candaan mengenai tahun 2029 ketika berbicara dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Saat itu Prabowo menyatakan dirinya tetap akan mendukung Pramono sebagai Gubernur DKI meskipun keduanya berasal dari partai berbeda, sebelum kemudian melontarkan kalimat bahwa urusan 2029 diserahkan kepada dinamika politik.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu momen yang kembali dikaitkan dengan spekulasi mengenai hubungan politik keduanya.

Pengamat Mulai Membaca Kemungkinan Koalisi

Sejumlah pengamat politik kemudian menghubungkan kedekatan Prabowo dan Pramono dengan kemungkinan terbentuknya kerja sama Gerindra-PDIP.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, misalnya, menyebut pasangan Prabowo-Pramono sebagai salah satu opsi yang sedang diperbincangkan dalam peta Pilpres 2029.

Namun, pandangan pengamat tersebut merupakan analisis politik dan bukan keputusan resmi partai.

Di sisi lain, terdapat pula analisis yang menempatkan Pramono sebagai figur yang berpotensi dipersiapkan PDIP untuk menghadapi Pilpres 2029. Artinya, posisi Pramono dalam spekulasi politik saat ini belum mengarah pada satu konfigurasi yang pasti.

Gerindra-PDIP Jadi Titik Perhatian

Jika wacana Prabowo-Pramono terus berkembang, perhatian berikutnya akan tertuju pada hubungan politik antara Gerindra dan PDIP.

Kedua partai memiliki sejarah kompetisi dalam pemilu, tetapi juga memiliki pengalaman membangun komunikasi politik di tingkat elite.

Karena itu, pembicaraan mengenai kemungkinan kerja sama kedua partai pada 2029 tidak hanya berkaitan dengan figur Prabowo dan Pramono, tetapi juga menyangkut keputusan masing-masing partai mengenai arah koalisi, pencalonan, serta konfigurasi politik menjelang pemilu.

Hingga September 2026, belum terdapat keputusan resmi yang menetapkan Prabowo-Pramono sebagai pasangan calon Pilpres 2029.

Dinamika Masih Panjang

Pilpres 2029 masih berada dalam tahapan awal pembentukan peta politik. Nama-nama calon, kemungkinan koalisi, serta arah dukungan partai masih dapat berubah mengikuti perkembangan politik nasional.

Karena itu, kedekatan Prabowo dan Pramono dalam sejumlah agenda pemerintahan dapat dibaca sebagai fakta hubungan kerja dan komunikasi politik, sementara kaitannya dengan pasangan Pilpres 2029 masih berada pada ranah wacana dan analisis.

Untuk saat ini, baik Gerindra maupun PDIP belum mengumumkan keputusan final mengenai pasangan calon yang akan mereka usung pada Pilpres 2029.

Komentar