JurnalPatroliNews | Jakarta – Harga emas dunia mencoba bangkit setelah mengalami tekanan hebat pada perdagangan sebelumnya. Penguatan tipis terjadi ketika investor mulai melakukan aksi beli setelah harga logam mulia tersebut jatuh hampir 4 persen dalam sehari.
Harga emas spot naik sekitar 0,7 persen menjadi US$4.142,89 per troy ounce pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Sementara emas berjangka untuk pengiriman Desember ditutup naik sekitar 0,3 persen di level US$4.179,70 per troy ounce.
Kendati menguat, pergerakan tersebut belum serta-merta menunjukkan perubahan arah pasar. Sejumlah pelaku pasar melihat kenaikan emas sebagai pemulihan setelah aksi jual besar pada perdagangan sebelumnya.
Pada Senin (28/9/2026), harga emas tertekan hampir 4 persen dan mencapai level terendah dalam lebih dari tujuh pekan. Penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, kenaikan harga energi serta kekhawatiran inflasi menjadi sejumlah faktor yang menekan harga emas.
Emas Masih Dibayangi Kebijakan The Fed
Tekanan terhadap emas tidak terlepas dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil. Karena itu, ketika imbal hasil aset berbasis dolar seperti obligasi AS meningkat, daya tarik emas sebagai aset alternatif dapat berkurang.
Pada perdagangan Selasa, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,28 persen, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun sempat berada di atas 5,6 persen. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap logam mulia.
Penguatan dolar AS juga menjadi faktor penting. Dolar yang lebih kuat membuat emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Namun, ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve kembali berubah setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams memberikan sinyal bahwa bank sentral masih memiliki waktu untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum menaikkan suku bunga lagi.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu Berikutnya
Perhatian investor kini beralih kepada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat.
Salah satu data yang paling dinantikan adalah Personal Consumption Expenditures (PCE) price index, yang menjadi salah satu indikator inflasi yang diperhatikan Federal Reserve.
Data tenaga kerja juga menjadi perhatian karena kondisi pasar tenaga kerja dapat memengaruhi keputusan bank sentral dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pasar akan mencermati apakah data ekonomi menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi atau justru mulai mereda.
Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dan berpotensi menopang dolar serta imbal hasil Treasury. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap emas.
Ekspektasi Suku Bunga Mulai Berubah
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed terlihat dari pergerakan probabilitas kenaikan suku bunga.
Pada perdagangan 29 September, pasar sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai sekitar 68 persen, sementara peluang kenaikan pada Desember berada di sekitar 95 persen, berdasarkan CME FedWatch.
Namun, setelah pernyataan John Williams, ekspektasi untuk kenaikan Oktober turun. Laporan Reuters pada 30 September menyebut probabilitas kenaikan Oktober berada di sekitar 47 persen, sedangkan peluang kenaikan Desember sekitar 92 persen.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa investor masih sangat sensitif terhadap setiap pernyataan pejabat Federal Reserve dan data ekonomi terbaru.
Logam Mulia Lain Ikut Tertekan
Pergerakan pasar tidak hanya terjadi pada emas.
Harga sejumlah logam mulia lainnya juga berada di bawah tekanan. Pada perdagangan spot, perak tercatat melemah, sementara platinum dan paladium juga mengalami koreksi.
Kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang lebih luas terhadap pasar logam mulia ketika dolar AS dan imbal hasil obligasi bergerak tinggi.
Meski demikian, arah masing-masing komoditas tetap dipengaruhi oleh faktor fundamental yang berbeda, termasuk permintaan industri dan kondisi pasokan.
Investor Menunggu Arah Baru
Setelah mengalami penurunan tajam, emas kini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
Pada 30 September, harga emas spot kembali bergerak di sekitar US$4.180 per troy ounce, sementara emas berjangka AS berada di sekitar US$4.210. Pasar masih menunggu data PCE dan indikator ekonomi lainnya sebagai petunjuk mengenai langkah Federal Reserve berikutnya.
Bagi investor, kombinasi inflasi, dolar AS, imbal hasil Treasury dan kebijakan suku bunga menjadi faktor utama yang akan menentukan arah emas dalam jangka pendek.
Dengan demikian, penguatan emas pada Selasa belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap logam mulia telah berakhir. Pasar masih menunggu konfirmasi dari data ekonomi Amerika Serikat sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.















Komentar