Ribuan Nakes Dikerahkan, Kemenkes Hadapi 277 Ribu Kasus ISPA akibat Karhutla

JurnalPatroliNews | Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan untuk menangani dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda tujuh provinsi serta 63 kabupaten dan kota. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat di wilayah terdampak hingga pertengahan Oktober 2026.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengungkapkan bahwa data kumulatif hingga 12 Oktober 2026 menunjukkan terdapat 277.075 kasus ISPA. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus dialami kelompok usia 0–5 tahun.

“Berdasarkan data hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) secara kumulatif, dengan 62.400 kasus di antaranya pada rentang usia 0–5 tahun,” ujar Widyawati, dikutip Kamis (15/10/2026).

Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah karena paparan asap kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

Belasan Daerah Tercatat Mengalami Kualitas Udara Berbahaya

Ancaman kesehatan akibat karhutla juga terlihat dari hasil pemantauan kualitas udara di wilayah terdampak.

Berdasarkan data dari 37 stasiun pemantau indeks standar pencemar udara (ISPU), sebanyak 13 daerah tercatat berada dalam kategori berbahaya. Sebanyak 11 daerah lainnya masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan 13 daerah berada pada kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan layanan kesehatan dan pemantauan penyakit di tengah situasi pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan.

Widyawati mengatakan, pemerintah telah mengambil langkah penanganan dengan memobilisasi tenaga kesehatan serta memperkuat fasilitas pelayanan medis di wilayah terdampak.

“Merespons situasi ini, pemerintah telah memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan memperkuat layanan kesehatan, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di wilayah terdampak,” kata dia.

Tiga Juta Masker dan Logistik Kesehatan Disalurkan

Selain menambah dukungan tenaga medis, pemerintah juga menyalurkan perlengkapan dan logistik kesehatan untuk membantu penanganan masyarakat di lapangan.

Bantuan tersebut mencakup sekitar tiga juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, serta alat pelindung diri (APD) bagi petugas yang terlibat dalam penanganan dampak karhutla.

Penyediaan logistik tersebut ditujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan sekaligus membantu melindungi masyarakat dan tenaga medis di daerah terdampak.

Penguatan sistem rujukan juga menjadi bagian penting dari penanganan, terutama bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau perawatan di fasilitas kesehatan dengan kemampuan lebih lengkap.

Anak-Anak Menjadi Kelompok yang Perlu Mendapat Perhatian

Dari total kasus ISPA yang tercatat, 62.400 kasus terjadi pada anak berusia 0–5 tahun. Data ini menempatkan kesehatan anak sebagai salah satu perhatian penting dalam upaya penanganan dampak karhutla.

Paparan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengikuti imbauan dari otoritas kesehatan setempat.

Apabila muncul keluhan seperti sesak napas atau gangguan pernapasan yang memburuk, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.

Pemerintah melalui Kemenkes terus memperkuat dukungan tenaga kesehatan, logistik, dan pemantauan penyakit untuk merespons dampak kesehatan di wilayah terdampak.

Dengan tingginya jumlah kasus ISPA dan masih ditemukannya daerah dengan kualitas udara buruk, koordinasi lintas sektor menjadi penting agar penanganan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan secara tepat waktu.

Komentar