JurnalPatroliNews | Washington — Tekanan biaya hidup kembali menghantui masyarakat Amerika Serikat (AS) setelah inflasi tahunan meningkat menjadi 3,7 persen pada September 2026. Lonjakan harga bensin menjadi pendorong utama, sementara ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menambah kekhawatiran pasar menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November mendatang.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Rabu (14/10/2026), Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 0,6 persen secara bulanan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus, sekaligus mendorong inflasi tahunan meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,7 persen.
Kenaikan harga energi menjadi faktor paling menonjol dalam laporan tersebut. Indeks harga bensin melonjak 9,1 persen selama September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan. Dalam setahun, indeks harga bensin bahkan meningkat 34,2 persen.
Situasi ini terjadi di tengah gejolak energi global yang berkaitan dengan konflik di Iran serta perang Rusia-Ukraina. Gangguan pasokan energi turut meningkatkan biaya transportasi dan berpotensi menambah tekanan terhadap harga berbagai barang dan jasa.
Kyle Moore, kepala ekonom The Century Foundation, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa konflik di Iran mengganggu rantai pasokan global dan mendorong kenaikan biaya pangan serta bahan bakar.
Dampaknya terasa langsung di sektor transportasi dan pengeluaran rumah tangga. Harga bahan bakar yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya distribusi barang, sehingga berpotensi membebani perusahaan dan konsumen.
Harga Kebutuhan Pangan Bergerak Beragam
Tekanan inflasi tidak sepenuhnya merata pada semua kebutuhan sehari-hari. Data BLS menunjukkan indeks harga pangan secara keseluruhan tidak berubah secara bulanan pada September. Namun, pergerakan harga sejumlah bahan makanan memperlihatkan perbedaan yang cukup mencolok.
Di tingkat konsumen, harga unggas meningkat 0,7 persen, buah dan sayuran naik 0,5 persen, sedangkan jus mengalami kenaikan 1,1 persen. Sebaliknya, harga susu turun 2,1 persen dan daging sapi turun 0,9 persen.
Untuk pangan yang dibeli dan dikonsumsi di rumah, indeks harga justru turun 0,1 persen dibandingkan Agustus. Meski demikian, secara tahunan, harga pangan untuk konsumsi rumah tangga masih meningkat 1,8 persen.
Biaya tempat tinggal juga tetap menjadi sumber tekanan. Indeks biaya perumahan naik 0,4 persen pada September setelah meningkat 0,3 persen pada bulan sebelumnya. Dalam periode tahunan, komponen tersebut tercatat naik 3,2 persen.
Selain energi dan perumahan, kenaikan harga juga menjalar ke sejumlah produk teknologi. Al Jazeera melaporkan harga perangkat lunak komputer dan aksesori melonjak 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring besarnya investasi pada pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan inflasi tidak hanya menyangkut bahan bakar. Pergerakan harga pada berbagai barang dan jasa membuat tekanan terhadap anggaran rumah tangga tetap menjadi perhatian, meskipun beberapa kelompok kebutuhan pangan mengalami penurunan harga.
Arah Suku Bunga The Fed Masih Menjadi Teka-Teki
Kenaikan inflasi turut mempersulit perkiraan arah kebijakan moneter AS. Pada September, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun.
Rapat kebijakan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan kebutuhan mengendalikan inflasi sekaligus risiko bahwa suku bunga lebih tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman bagi masyarakat dan dunia usaha.
Dalam laporan Al Jazeera pada 14 Oktober, data CME FedWatch saat itu menunjukkan peluang 52,9 persen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga dan 47,1 persen untuk menaikkannya sebesar 25 basis poin. Angka tersebut merupakan gambaran ekspektasi pasar pada saat laporan dibuat, bukan keputusan resmi bank sentral.
Perkiraan pasar kemudian berubah. Dalam perkembangan pada Jumat (16/10/2026), Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan petunjuk tegas mengenai keputusan suku bunga Oktober. Sejumlah laporan pasar menyebut pelaku pasar kembali cenderung memperkirakan suku bunga bertahan pada rapat mendatang, dengan kemungkinan kenaikan berikutnya pada Desember.
Dengan demikian, keputusan The Fed belum dapat dipastikan. Perkembangan inflasi, harga energi, serta kondisi perekonomian akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
Inflasi Jadi Isu Politik Jelang Pemilu Paruh Waktu
Meningkatnya biaya hidup juga menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026, ketika pemilih akan menentukan komposisi baru Kongres.
Survei Reuters/Ipsos yang dirilis pada 9 Oktober menemukan sekitar 78 persen warga AS menilai kebijakan Presiden Donald Trump ikut bertanggung jawab atas kenaikan harga. Survei tersebut melibatkan 4.506 orang dewasa dan memiliki margin kesalahan sekitar dua poin persentase untuk keseluruhan responden.
Temuan itu memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap daya beli dan biaya hidup. Namun, pandangan responden mengenai penyebab kenaikan harga perlu dibedakan dari analisis ekonomi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi inflasi.
Pada saat yang sama, kenaikan harga energi dan barang kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan bagi pemerintah AS dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kondisi perekonomian.
Dengan inflasi tahunan yang kembali meningkat dan keputusan suku bunga yang masih menunggu rapat The Fed, perkembangan ekonomi AS dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan tetap menjadi perhatian pasar keuangan dan pelaku usaha.













Komentar