Nama Indonesia Disebut Netanyahu dalam Debat soal Sejarah Israel dan Palestina

JurnalPatroliNews | Yerusalem — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons kritik mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama terkait sejarah berdirinya Israel dan perlakuan terhadap rakyat Palestina. Dalam pernyataan video yang diunggah melalui platform X pada Jumat (16/10/2026), Netanyahu menolak anggapan bahwa bangsa Yahudi merupakan penjajah di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur.

Pernyataan Netanyahu menjadi sorotan karena ia menggunakan perbandingan sejarah kolonial Eropa, termasuk pengalaman Belanda di Indonesia dan Belgia di Kongo, untuk menegaskan pandangannya mengenai hubungan bangsa Yahudi dengan wilayah yang disebutnya sebagai Judea.

“Bangsa Yahudi bukanlah penjajah asing di tanah leluhur kami. Sejarah kami bukanlah sebuah upaya kolonial. Tanah kami bukanlah tanah curian. Ini adalah tanah air kami,” ujar Netanyahu dalam video tersebut, sebagaimana dikutip dari laporan media internasional.

Ia kemudian menyampaikan pernyataan yang menyinggung Indonesia secara langsung.

“Kami bukan orang Belanda di Indonesia. Kami bukan orang Belgia di Kongo. Kami adalah orang Yahudi di Judea,” kata Netanyahu.

Pernyataan itu merupakan bagian dari argumennya bahwa hubungan historis bangsa Yahudi dengan wilayah tersebut berbeda dari pengalaman kolonialisme Eropa di berbagai belahan dunia.

Netanyahu Sebut Israel Bukan Penghambat Perdamaian

Dalam video yang sama, Netanyahu menolak anggapan bahwa Israel menjadi penghalang utama bagi tercapainya perdamaian di Timur Tengah. Ia justru menyalahkan pihak-pihak yang menurutnya tidak mengakui hak bangsa Yahudi untuk memiliki negara sendiri.

Netanyahu juga menghubungkan ancaman terhadap Israel dengan retorika anti-Israel dan anti-Amerika yang, menurutnya, digunakan oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan kedua negara.

Ia memperingatkan bahwa perdamaian tidak akan bertahan apabila dibangun di atas apa yang disebutnya sebagai ilusi, serta menegaskan bahwa Israel tidak akan mempertaruhkan kelangsungan negaranya demi memenuhi tuntutan pihak yang dianggap menolak hak Israel untuk berdiri.

Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi pemerintah Netanyahu yang menempatkan pengakuan terhadap Israel dan aspek keamanan sebagai unsur utama dalam perdebatan mengenai perdamaian.

Kritik Obama Berangkat dari Persoalan Palestina

Respons Netanyahu muncul setelah Obama menyampaikan kritik dalam sebuah acara di Belfast, Irlandia Utara, pada Selasa (13/10/2026).

Dalam pembicaraan tersebut, Obama mengakui bahwa masyarakat Yahudi memiliki sejarah panjang mengalami penindasan dan penganiayaan sehingga kebutuhan mereka untuk mencari perlindungan dapat dipahami. Namun, ia juga menyoroti pengalaman rakyat Palestina yang kehilangan tanah dan menilai pendekatan Israel yang mengandalkan kekuatan serta kendali wilayah berisiko mengikis landasan moralnya.

Obama memperingatkan bahwa keunggulan militer tidak dengan sendirinya menjamin keamanan jangka panjang. Menurutnya, Israel dan Palestina sama-sama akan tetap berada di kawasan tersebut sehingga diperlukan pendekatan yang membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Kritik itu menyoroti persoalan yang lebih luas daripada klaim sejarah semata, yakni bagaimana keamanan Israel, hak-hak rakyat Palestina, penguasaan wilayah, dan kemungkinan tercapainya penyelesaian politik harus dipertimbangkan bersama.

Sejarah dan Status Wilayah Tetap Menjadi Perdebatan

Pernyataan Netanyahu menempatkan hubungan historis bangsa Yahudi dengan Judea sebagai dasar penolakannya terhadap istilah penjajahan. Namun, pandangan tersebut tidak mengakhiri perdebatan mengenai sejarah berdirinya Israel, perpindahan dan pengusiran warga Palestina, maupun status wilayah Palestina yang diduduki.

Pengalaman kolonial Belanda di Indonesia dan Belgia di Kongo juga memiliki konteks sejarah tersendiri. Karena itu, perbandingan yang disampaikan Netanyahu perlu dipahami sebagai argumen politiknya, bukan sebagai kesimpulan yang dengan sendirinya menyelesaikan persoalan sejarah dan hukum internasional terkait Israel–Palestina.

Pertukaran pernyataan antara Netanyahu dan Obama kembali memperlihatkan perbedaan pendekatan dalam memandang konflik tersebut. Netanyahu menekankan hak historis bangsa Yahudi dan keamanan Israel, sedangkan Obama menyoroti konsekuensi penguasaan wilayah serta perlunya konsesi bagi tercapainya perdamaian.

Di tengah perbedaan itu, persoalan hak rakyat Palestina, keamanan Israel, dan penyelesaian konflik tetap menjadi isu utama dalam upaya mencari perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Komentar