JurmalPatroliNews – Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia kini tidak sepenuhnya mengandalkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Perubahan perilaku ini terlihat dari semakin banyaknya pengguna kendaraan yang memilih beralih ke BBM non-subsidi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menegaskan bahwa tren pergeseran konsumsi tersebut cukup signifikan.
“Sudah ada pergeseran. Masyarakat tidak lagi selalu bergantung pada BBM bersubsidi, sebagian justru mulai menggunakan BBM dengan kualitas di atas RON 92,” ujarnya di Kompleks DPR RI.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menanggapi isu kelangkaan BBM di sejumlah SPBU swasta seperti Shell dan BP-AKR yang mencuat dalam sepekan terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut erat kaitannya dengan kebijakan QR Code Pertamina yang diwajibkan untuk pembelian BBM subsidi.
“Karena ada aturan QR Code, masyarakat yang belum mendaftar atau kendaraan yang CC-nya tidak sesuai akhirnya beralih ke BBM non-subsidi. Peralihan inilah yang meningkatkan permintaan,” jelas Yuliot.
Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM, perpindahan konsumsi tersebut mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter BBM. Kenaikan kebutuhan inilah yang membuat persediaan di SPBU swasta khususnya untuk jenis non-subsidi semakin tertekan.
“Hitungan kami, migrasi konsumsi BBM subsidi ke non-subsidi sekitar 1,4 juta kiloliter. Itu yang menimbulkan lonjakan permintaan di SPBU swasta besar,” tambahnya.














