JurnalPatroliNews – JAKARTA – Pemerintah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memastikan ketersediaan serta kelancaran distribusi energi menjelang arus mudik Idulfitri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyiagakan ribuan SPBU dan membentuk Posko Energi Nasional guna memantau pasokan BBM, LPG, dan listrik.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Dwi Anggi, mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjamin stok energi tetap aman meskipun Indonesia masih bergantung pada impor sebagian kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).
“Memang benar saat ini Indonesia masih berstatus sebagai net importer. Dari total konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari, produksi domestik kita sekitar 605 ribu barel per hari, sementara sisanya dipenuhi melalui impor,” ujar Dwi dalam wawancara yang dikutip Jumat (13/3/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sumber impor energi Indonesia tidak bergantung pada satu wilayah saja. Pemerintah telah melakukan diversifikasi pasokan dari berbagai negara.
“Kita memiliki banyak alternatif sumber pasokan, misalnya dari negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola, kemudian dari Amerika Latin seperti Brasil, serta dari Amerika Serikat. Dengan diversifikasi ini, kita tidak bergantung pada satu kawasan saja,” jelasnya.
Untuk mengawasi kondisi pasokan energi selama periode mudik, pemerintah juga mendirikan Posko Energi Nasional yang melibatkan berbagai pihak, termasuk badan usaha penyedia BBM, LPG, dan listrik. Posko ini akan memantau kondisi energi secara real-time di seluruh wilayah.
Selain itu, pemerintah menugaskan Pertamina untuk memperkuat kesiapan distribusi BBM, terutama di jalur-jalur mudik.
“Layanan tidak hanya melalui SPBU reguler, tetapi juga melalui fasilitas tambahan seperti SPBU kantong dan SPBU mobile di jalur-jalur mudik,” kata Dwi.
Secara keseluruhan, sekitar 7.800 SPBU di seluruh Indonesia disiapkan untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama di jalur mudik, kota tujuan pemudik, serta kawasan wisata. Selain itu, sekitar dua ribu agen LPG juga disiagakan selama 24 jam.
Dwi menambahkan, konsumsi energi selama periode mudik biasanya mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data historis, penggunaan BBM dapat meningkat sekitar 10 hingga 20 persen, sementara konsumsi LPG cenderung naik lebih kecil, sekitar 0,4 persen.














