JurnalPatroliNews – Denpasar – Aksi unjuk rasa di Bali kembali ricuh hingga menyebabkan seorang anggota Polresta Denpasar terluka. Insiden bermula ketika mobil samapta yang baru tiba di depan gedung DPRD Bali diserang dan dibakar massa pada Sabtu (30/8) malam.
Kabag Ops Polresta Denpasar, Kompol I Nyoman Wiranata, mengonfirmasi bahwa sopir kendaraan tersebut mengalami luka akibat lemparan massa. “Satu personel kami dilarikan ke rumah sakit, dia pengemudinya karena kena lemparan dari arah depan,” jelasnya.
Wiranata menduga kelompok yang menyerang bukanlah pengemudi ojek online maupun Aliansi Bali Tidak Diam massa yang berunjuk rasa di Mapolda Bali sejak pagi. Menurutnya, rombongan yang datang ke DPRD bersikap anarkis dan tidak pernah menyampaikan pemberitahuan resmi.
“Informasi awal hanya ada massa mau masuk ke DPRD, jadi kami segera bergerak untuk mengamankan lokasi,” katanya.
Sejak pagi, aliansi tersebut menggelar aksi dengan membawa 33 tuntutan, di antaranya pembubaran DPR RI, reformasi total Polri, pemakzulan Presiden dan Wakil Presiden Prabowo–Gibran, serta penghentian anggaran tunjangan. Massa juga menuntut redistribusi kekayaan Polri dan DPR bagi masyarakat kecil.
Ketegangan pecah ketika demonstran melempar batu, botol, hingga petasan suar ke arah aparat dan mencoba masuk ke Mapolda Bali. Polisi pun terpaksa menggunakan kendaraan taktis untuk memukul mundur massa.
Menjelang sore, sekitar pukul 17.00 Wita, ratusan orang berpindah ke depan Kantor DPRD Bali di Jalan Kusuma Atmaja. Tanpa informasi resmi, polisi baru tiba setengah jam kemudian dengan mobil samapta dan pengeras suara. Namun, kedatangan aparat justru langsung disambut dengan lemparan benda keras hingga kendaraan polisi dibakar.
“Kendaraan kami hanya untuk membawa perlengkapan seperti tameng, tapi begitu sampai langsung dihadang dan dibakar,” ujar Wiranata.
Saat ini sekitar 120 personel gabungan Polresta Denpasar dan Polda Bali disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi kericuhan lanjutan.
Kompol Wiranata mengimbau massa segera membubarkan diri demi menjaga ketertiban dan keamanan pariwisata Bali. “Kalau situasi semakin tidak kondusif, dampaknya ke masyarakat Bali sendiri, apalagi daerah ini tujuan wisata. Di Mapolda aksi tadi sebenarnya berjalan baik, tapi ada kelompok lain yang justru ingin membuat ricuh,” pungkasnya.










