Bitcoin Anjlok 2 Persen, Tertekan Gejolak Geopolitik


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Harga Bitcoin tercatat melemah sekitar 2 persen pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Berdasarkan data CoinMarketCap, aset kripto terbesar di dunia itu turun ke kisaran 68.697 dolar AS.

Penurunan harga Bitcoin dipicu oleh meningkatnya tekanan global, terutama dari faktor geopolitik. Mandeknya perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus 100 dolar AS per barel pada 26 Maret.

Kenaikan harga minyak tersebut memicu aksi jual di pasar keuangan global, termasuk saham dan aset berisiko seperti kripto. Kondisi ini membuat tekanan terhadap Bitcoin semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, penurunan harga juga diperparah oleh gelombang likuidasi posisi leverage di pasar kripto. Total likuidasi Bitcoin tercatat mencapai 85,79 juta dolar AS, meningkat 48,1 persen dalam 24 jam terakhir, yang turut mempercepat pelemahan harga.

Secara teknikal, Bitcoin saat ini tengah menguji area support penting di kisaran 68.000 dolar AS, dengan likuiditas order-book berada di rentang 68.200 hingga 68.500 dolar AS.

Pelaku pasar kini mencermati rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada hari ini. Data tersebut diperkirakan akan memberikan arah lanjutan bagi pergerakan pasar, termasuk aset kripto.

Jika mampu bertahan di atas level 68.000 dolar AS, Bitcoin berpotensi bergerak konsolidatif dalam jangka pendek. Namun, apabila level tersebut ditembus, harga diperkirakan akan melanjutkan pelemahan menuju area 67.000 dolar AS.

Situasi ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar kripto terhadap dinamika global, khususnya ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi.