Bos Pfizer Dorong Vaksinasi Tahunan, Daripada Vaksin Booster, Ini Alasannya

Foto: AP/Giannis Papanikos

JurnalPatroliNews – Jakarta,- Direktur Utama Pfizer Inc. Albert Bourla mengatakan bahwa vaksin Covid-19 tahunan akan lebih disukai daripada suntikan booster yang lebih sering dalam memerangi pandemi virus corona.

Vaksin Covid-19 Pfizer/BioNtech telah terbukti efektif melawan penyakit parah dan kematian yang disebabkan oleh varian Omicron yang bermutasi berat, tetapi kurang efektif dalam mencegah penularan.

Bacaan Lainnya

Dengan kasus yang melonjak, beberapa negara telah memperluas program penguat vaksin Covid-19 atau memperpendek jarak antar suntikan ketika pemerintah berjuang untuk menopang perlindungan.

Dalam sebuah wawancara dengan N12 News Israel, dilansir dari Reuters, Minggu (23/01/2022).

Bourla ditanya seperti apa pendapatnya terkait suntikan booster jika diberikan setiap empat hingga lima bulan secara teratur ?.

“Ini bukan skenario yang baik. Yang saya harapkan adalah bahwa kami akan memiliki vaksin yang harus Anda lakukan setahun sekali,” jawab Bourla.

“Setahun sekali – lebih mudah meyakinkan orang untuk melakukannya. Lebih mudah diingat orang,” tuturnya.

Menurut Bourla, Pfizer siap mengajukan persetujuan untuk vaksin yang dirancang ulang untuk melawan Omicron, dan memproduksinya secara massal, segera setelah Maret.

“Jadi dari perspektif kesehatan masyarakat, ini adalah situasi yang ideal. Kami sedang mencari untuk melihat apakah kami dapat membuat vaksin yang mencakup Omicron dan tidak melupakan varian lain dan itu bisa menjadi solusi,” jelas Bourla.

Berdasarkan tiga penelitian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan bahwa dosis ketiga vaksin mRNA adalah kunci untuk memerangi Omicron, memberikan perlindungan 90% terhadap rawat inap.

Sebuah studi pendahuluan yang diterbitkan oleh Pusat Medis Sheba Israel menemukan bahwa suntikan keempat meningkatkan antibodi ke tingkat yang lebih tinggi daripada yang ketiga tetapi kemungkinan tidak cukup untuk menangkis Omicron. Meskipun demikian, booster kedua masih disarankan untuk kelompok risiko, kata Sheba.

Pos terkait