Citigroup: Emas Akan Cetak Rekor Lagi Sebelum Akhir 2020

  • Whatsapp
Ilustrasi/Net

JurnalPatroliNews – Jakarta,– Harga emas dunia kembali merosot pada perdagangan Jumat (25/9/2020). Meski demikian, di sebelum akhir tahun emas diramal akan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Pada pukul 17:58 WIB, emas merosot 0,71% ke US$ 1.854,76/troy ons. Dalam 4 hari perdagangan sebelumnya, emas hanya menguat kemarin. 3 hari sebelumnya emas merosot dengan total 4,42%.

Bacaan Lainnya

Logam mulia ini terpukul oleh 2 faktor, outlook suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, dan penguatan dolar AS.
Tetapi penguatan dolar AS sudah tertahan sejak kemarin, yang membuat emas mampu menguat.

Indeks dolar AS melemah tipis 0,06% pada perdagangan Kamis setelah mencatat penguatan 3 hari beruntun dengan total persentase 1,58%.

Semalam data klaim tunjangan pengangguran AS naik dilaporkan sebanyak menjadi 870 ribu pada pekan yang berakhir 19 September, dari sebelumnya 866 ribu dan lebih tinggi dari perkiraan yang memprediksi angkanya bakal turun ke 840 ribu.

Kabar kurang mengenakkan ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih penuh ketidakpastian seiring dengan perkembangan wabah virus corona yang kembali mengganas dengan lonjakan kasus di berbagai tempat termasuk AS. Alhasil, penguatan dolar AS pun tertahan.

Tetapi bukan dolar AS yang akan membawa emas mencetak rekor tertinggi lagi, tetapi Pemilihan presiden (Pilpres) AS bulan November nanti.

Sebagaimana dilansir Kitco, Citigroup dalam laporan komoditas kuartalan memprediksi harga emas akan mencetak rekor tertinggi lagi sebelum akhir tahun ini, akibat situasi politik dan ketidakpastian hasil Pilpres 3 November nanti. Citi bahkan menyebut ketidakpastian Pilpres AS menjadi “katalis yang luar biasa” bagi emas.

“Itu adalah salah satu alasan kenapa kami memprediksi emas akan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sebelum akhir tahun ini,” tulis Citi sebagaimana dilansir Kitco, Kamis (24/9/2020).

Untuk diketahui, rekor tertinggi sepanjang masa harga emas di US$ 2,072,49/troy ons, yang dicapai pada 7 Agustus lalu.

[cnbc]

Pos terkait