Dinar Bahrain hingga Rial Oman, Raja Mata Uang Terkuat terhadap Rupiah

JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) selama ini kerap dijadikan barometer utama dalam memantau pergerakan rupiah. Dominasi dolar dalam transaksi perdagangan internasional dan sistem keuangan global menjadikannya rujukan penting bagi pelaku pasar dan pemerintah.

Meski demikian, jika ditinjau dari nilai nominal terhadap rupiah, dolar AS bukanlah mata uang dengan nilai tertinggi. Mengacu pada data Refinitiv pada perdagangan Selasa (28/4/2026) pukul 13.21 WIB, sejumlah mata uang justru mencatatkan nilai yang jauh lebih tinggi.

Dinar Bahrain tercatat menempati posisi teratas dengan nilai sekitar Rp45.680 per BHD. Disusul rial Oman yang berada di kisaran Rp44.775 per OMR, serta dinar Yordania di level Rp24.281 per JOD. Sementara itu, dolar AS berada pada posisi Rp17.240 per US$, masih berada di bawah ketiga mata uang tersebut.

Kondisi ini menegaskan bahwa tingginya nilai tukar mata uang tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya skala ekonomi suatu negara. Sejumlah negara dengan mata uang bernilai tinggi justru memiliki ekonomi yang relatif kecil, namun ditopang oleh kebijakan moneter yang disiplin, stabilitas fiskal, serta sistem pengelolaan nilai tukar yang kuat.

Di kawasan Teluk, seperti Bahrain dan Oman, kekuatan mata uang sangat dipengaruhi oleh sektor energi, khususnya minyak dan gas, serta kebijakan kurs yang cenderung dikaitkan dengan dolar AS. Hal ini membuat nilai mata uang mereka relatif stabil dan berada pada level tinggi.

Sementara itu, franc Swiss tetap menjadi salah satu mata uang paling diminati karena reputasinya sebagai aset safe haven. Stabilitas politik, sistem keuangan yang solid, serta kepercayaan investor global menjadi faktor utama yang menjaga kekuatan mata uang tersebut.

Di sisi lain, dolar Kepulauan Cayman juga mencatatkan nilai tinggi, didorong oleh perannya sebagai pusat keuangan internasional dengan aktivitas jasa keuangan dan investasi global yang intensif.

Adapun mata uang utama lain seperti euro dan pound sterling Inggris masih menunjukkan kekuatan terhadap rupiah, meskipun nilainya tidak setinggi mata uang dari negara-negara Teluk.

Perkembangan terkini, pergerakan rupiah dinilai masih berada di bawah pengaruh tekanan eksternal dan domestik. Penguatan dolar AS di pasar global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta fluktuasi harga komoditas menjadi faktor eksternal yang dominan. Dari dalam negeri, indikator seperti inflasi, performa ekspor, dan aliran modal asing turut memengaruhi stabilitas rupiah.

Sejumlah analis memperkirakan volatilitas nilai tukar masih akan berlangsung dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid diyakini tetap menjadi penopang utama dalam menjaga stabilitas rupiah ke depan.