Hujan Panjang Picu Lonjakan Harga Sayuran di Malaysia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang hujan monsun timur laut yang berkepanjangan membuat Malaysia menghadapi kenaikan harga sayuran paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Curah hujan tinggi tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga menghambat distribusi hasil panen dari wilayah sentra produksi utama seperti Cameron Highlands.

Akibat gangguan pasokan tersebut, harga berbagai jenis sayuran di sejumlah daerah melonjak drastis, bahkan mencapai tiga kali lipat. Kondisi ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat, dengan kekurangan pasokan berpotensi berlangsung hingga awal 2026. Para petani menjadi pihak yang paling terdampak, terutama penghasil sayuran berdaun yang mudah membusuk saat terendam air.

Ketua Asosiasi Petani Sayuran Cameron Highlands, Chai Kok Lim, mengungkapkan bahwa kerugian yang dialami petani sangat signifikan. Tanaman berdaun, menurutnya, hampir tidak bisa diselamatkan ketika lahan tergenang air dalam waktu lama.

“Lonjakan harga kali ini merupakan yang tertinggi sepanjang musim monsun dan menunjukkan betapa mendesaknya pembenahan infrastruktur pertanian,” kata Chai, seperti dikutip dari Fresh Plaza, Sabtu, 13 Desember 2025.

Tekanan pasokan semakin berat karena kondisi serupa juga terjadi di negara tetangga. Banjir yang melanda Thailand dan Indonesia turut mengurangi ketersediaan sayuran di kawasan regional. Seorang pedagang menyebutkan bahwa harga buncis melonjak tajam dari 2,50 Ringgit (sekitar Rp10.000) menjadi 14 Ringgit (sekitar Rp57.000) per kilogram.

Kenaikan harga juga terlihat jelas di pasar grosir. Sayuran yang biasanya dilepas di kisaran 1–3 Ringgit per kilogram kini dijual antara 5–10 Ringgit. Di Pasar Grosir Selayang, Kuala Lumpur, harga bayam melonjak dari 2–3 Ringgit menjadi 8–9 Ringgit per kilogram, setara Rp33.000–Rp37.000. Komoditas lain seperti okra dan cabai pun mengalami lonjakan serupa.

Dampak krisis pasokan ini turut dirasakan sektor kuliner. Pelaku usaha restoran berusaha menahan kenaikan harga makanan demi menjaga daya beli konsumen, meskipun langkah tersebut menekan margin keuntungan mereka. Di negara bagian Kelantan, harga cabai merah bahkan dilaporkan menembus 25–30 Ringgit per kilogram, atau sekitar Rp102.000–Rp123.000.

Kelompok konsumen menilai kondisi ini menyingkap kelemahan mendasar dalam sistem ketahanan pangan nasional. Kepala Operasional Federasi Asosiasi Konsumen Malaysia, Nur Asyikin Aminuddin, menyoroti tingginya kehilangan hasil panen akibat buruknya penanganan pascapanen, yang diperkirakan mencapai 20–40 persen.

“Pemerintah perlu segera memperkuat jaringan logistik pangan dan mengoptimalkan peran lembaga pemasaran pertanian agar krisis seperti ini tidak terus terulang,” tegas Nur Asyikin.