JurnalPatroliNews – Jakarta – Pergerakan Yen Jepang kembali menjadi pusat perhatian pada Rabu, 10 Desember 2025, setelah mata uang tersebut anjlok cukup dalam pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penurunan Yen terutama dipicu oleh jurang suku bunga yang masih sangat lebar antara Jepang—yang mempertahankan kebijakan suku bunga ultra-rendah—dengan berbagai negara maju yang suku bunganya jauh lebih tinggi.
Meskipun Bank of Japan (BOJ) banyak diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan, pasar tetap memberikan tekanan kuat terhadap Yen.
Alex Hill dari Electus Financial menjelaskan bahwa Yen menjadi target pelemahan karena imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) meningkat, ditambah kekhawatiran pasar terhadap kesehatan fiskal dan prospek ekonomi Jepang.
Dalam perdagangan terbaru, Yen sempat jatuh 0,6 persen sebelum berbalik menguat tipis sekitar 0,15 persen menjadi 156,64 per Dolar AS. Yen bahkan menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah terhadap Euro. Banyak analis memperkirakan pelemahan Yen akan berlanjut hingga memasuki tahun baru, sementara mata uang seperti Dolar Australia (Aussie) dan Dolar Selandia Baru (Kiwi) masih berpeluang menanjak terhadap Yen.
Di sisi lain, pergerakan mata uang global cenderung tenang menjelang pengumuman kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang akan dirilis hari ini. Keputusan suku bunga kali ini dipandang sebagai salah satu yang paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.
Pelaku pasar hampir bulat memprediksi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Namun fokus utama tetap tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell serta gambaran proyeksi pemangkasan suku bunga pada 2026 dalam dot plot terbaru.
Menjelang rilis keputusan tersebut, indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di level 99,20. Euro diperdagangkan mendatar pada 1,1628 Dolar AS.
Poundsterling menguat tipis 0,06 persen ke 1,3305 Dolar AS, sementara Dolar Australia berada di 0,6641 Dolar AS setelah didorong oleh sinyal hawkish dari bank sentral Australia (RBA).
Secara keseluruhan, pasar global kini memasuki fase tunggu, menanti arah jelas dari kebijakan moneter AS yang akan menentukan sentimen pada sebagian besar mata uang dunia dalam waktu dekat.














