JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga Bitcoin kembali melaju di zona hijau. Pada perdagangan Kamis siang, 27 November 2025, aset kripto terbesar dunia tersebut tercatat menguat 4,58 persen hingga menembus kisaran 91.191 dolar AS.
Berdasarkan laporan CoinMarketCap, lonjakan ini dipicu oleh semakin kuatnya sentimen makro global. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 84,7 persen bahwa The Federal Reserve akan menurunkan suku bunga acuan pada Desember mendatang.
Ekspektasi itu memicu peralihan dana investor ke aset berisiko seperti Bitcoin. Kinerja bursa saham Amerika Serikat yang mencetak rekor tertinggi juga ikut mendorong minat terhadap kripto.
Secara teknikal, Bitcoin menunjukkan sinyal kebangkitan setelah sempat jatuh ke 80.595 dolar AS pada 21 November. Harga berhasil menembus garis tren turun, sementara indikator RSI yang sebelumnya berada dalam zona jenuh jual (39–48) mulai pulih. Indikator MACD pun telah mengindikasikan terbentuknya momentum bullish.
Dari sisi institusional, perkembangan positif datang dari Nasdaq. Bursa tersebut mengajukan proposal untuk menaikkan batas kontrak opsi ETF Bitcoin dari 250 ribu menjadi 1 juta kontrak — sebagaimana dilaporkan Cointelegraph. Kebijakan ini dipandang membuka pintu lebih besar bagi investor institusi, yang pada akhirnya memperkuat potensi reli harga Bitcoin.














