JurnalPatroliNews – Jakarta – Menjelang penutupan Oktober 2025, pasar keuangan internasional diguncang oleh perubahan tajam pada nilai tukar. Yen Jepang merosot 4,2 persen terhadap Dolar Amerika Serikat, mencatatkan penurunan bulanan terdalam sejak Juli.
Anjloknya nilai Yen, terutama pada perdagangan Jumat, 31 Oktober 2025, dipicu sentimen negatif pelaku pasar terhadap langkah Bank of Japan (BoJ).
Menurut laporan Reuters, investor berharap BoJ memberikan sinyal tegas terkait kenaikan suku bunga. Namun, Gubernur BoJ Kazuo Ueda memilih bersikap konservatif dengan mempertahankan bunga acuan di level 0,5 persen. Padahal, inflasi inti di Tokyo telah melampaui target BoJ sebesar 2 persen. Sikap berhati-hati ini memicu kekecewaan pasar dan menekan Yen.
Berkebalikan dengan Yen, Dolar AS justru mencatat penguatan. Indeks Dolar (DXY) naik 0,35 persen ke level 99,82 pada Jumat. Sepanjang Oktober, DXY menguat 2 persen seiring meningkatnya keyakinan terhadap kekuatan ekonomi AS.
Reli Dolar turut disokong pernyataan dari Ketua The Federal Reserve Jerome Powell dan pejabat The Fed lainnya yang menilai peluang pemangkasan suku bunga tambahan tahun ini semakin kecil akibat inflasi yang masih menjadi ancaman.
Dampaknya, mata uang utama lain ikut tertekan. Euro melemah 1,8 persen dalam sebulan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga. Poundsterling juga jatuh 2,3 persen akibat tekanan politik domestik dan kekhawatiran terhadap kebijakan anggaran Inggris.
Secara keseluruhan, akhir Oktober menunjukkan dominasi Dolar AS yang semakin kuat, sementara Yen mengalami tekanan hebat akibat kebijakan moneter yang dianggap terlalu lembut, disusul pelemahan mata uang Eropa akibat stagnasi arah kebijakan dan dinamika politik masing-masing.














