JurnalPatroliNews – Jakarta – Pemerintah mulai mendistribusikan bantuan sosial berupa beras sebanyak 10 kilogram kepada lebih dari 18,27 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia untuk periode Juni–Juli 2025. Penyaluran dilakukan dalam sekali distribusi (one shoot), termasuk di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, yang menjadi salah satu titik pembagian.
Warga menyambut bantuan ini dengan antusias, terutama di tengah lonjakan harga bahan pokok. Salah satunya, Endang (40), warga Kelurahan Makasar, mengaku bersyukur mendapatkan bantuan beras gratis. Menurutnya, bantuan sembako jauh lebih bermanfaat dibandingkan program makan gratis (MBG) di sekolah.
“Senang banget dapat beras. Kalau menurut saya, bantuan seperti ini jauh lebih terasa dibanding makan gratis. Banyak anak juga enggak habis makannya karena enggak suka menunya,” ujar Endang saat ditemui di lokasi.
Endang menilai, bantuan sembako memberi fleksibilitas bagi orangtua dalam menyiapkan makanan sesuai selera anak-anak. “Kalau orangtua yang masak sendiri, anak bisa makan lebih lahap. Jadi, mending kasih sembako setiap bulan daripada makanan gratis yang kadang mubazir,” katanya.
Ia juga menyebut bantuan ini sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya, terutama karena harga beras dan kebutuhan pokok lainnya sedang tinggi. “Lumayan banget, berasnya 10 kilo gratis. Sekarang harga naik semua, jadi ini sangat membantu,” lanjut Endang.
Warga lainnya, Sari (39), juga merasakan manfaat yang sama. Ia menyebut bantuan ini sebagai angin segar di tengah kesulitan ekonomi. “Senang banget. Apalagi ini gratis dan dikasih 10 kilogram. Di kemasannya juga tertulis untuk bantuan Juni dan Juli 2025,” katanya.
Sari berharap bantuan seperti ini bisa diberikan secara rutin. “Kalau bisa sih setiap bulan. Ini aja baru muncul lagi setelah sekian lama. Terakhir saya terima bantuan kayak gini mungkin tahun lalu,” ungkapnya.
Bahkan Endang, meski belum sepenuhnya pulih dari stroke, tetap datang dan rela mengantre demi mendapatkan bantuan tersebut. “Saya bela-belain datang, walau masih sakit. Soalnya kalau enggak diambil bisa hangus. Sayang banget,” ujarnya.
Beruntung, Endang mendapat bantuan dari petugas PPSU yang mempersilakan dirinya untuk antre lebih dulu. “Tadi dibantu petugas karena saya dikenal juga. Tapi bukan saya saja, lansia juga diprioritaskan,” katanya.
Selain itu, Endang juga mengapresiasi kualitas beras yang diterima. “Bagus kok, berasnya layak untuk dikonsumsi,” pungkasnya.














