Cerita SBY di Balik Pengiriman Kontingen Garuda ke Lebanon


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mengungkap kisah di balik keputusan Indonesia mengirimkan Kontingen Garuda ke Lebanon dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia juga menegaskan komitmennya untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit TNI yang menjadi korban dalam misi tersebut.

SBY menyatakan, langkah tersebut sejalan dengan upaya yang tengah dilakukan Presiden Prabowo Subianto dalam merespons insiden yang menimpa pasukan perdamaian Indonesia di Lebanon.

“Secara pribadi saya merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Lebanon ini,” ujar SBY melalui akun X miliknya, Minggu, 5 April 2026.

Dalam penuturannya, SBY mengulas awal keterlibatan Indonesia di Lebanon yang bermula dari konflik bersenjata antara Israel dan Lebanon pada Agustus 2006. Konflik tersebut menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, terutama di pihak Lebanon, sementara respons Dewan Keamanan PBB dinilai belum efektif saat itu.

Melihat situasi tersebut, SBY menginisiasi langkah diplomatik dengan mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Ahmad Badawi, untuk menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Pertemuan yang digelar di Kuala Lumpur itu dihadiri sejumlah pemimpin dunia, di antaranya Presiden Iran saat itu Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Recep Tayyip Erdogan, serta Perdana Menteri Lebanon Fouad Siniora.

Dalam forum tersebut, SBY menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengirim satu batalyon pasukan sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian PBB di perbatasan Israel–Lebanon, setelah tercapainya gencatan senjata.

Ia juga mengungkap langkah cepat pemerintah saat itu dalam memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista). SBY mengaku langsung menghubungi Presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac, guna pengadaan kendaraan tempur VAB melalui skema kerja sama antar pemerintah.

“Perancis bersedia dan proses pengirimannya berlangsung cepat,” ujarnya.

Tiga bulan kemudian, tepatnya pada November 2006, Kontingen Garuda XXIII/A resmi diberangkatkan ke Lebanon sebagai bagian dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Menurut SBY, hingga tahun 2026 Indonesia telah mengirimkan 19 kontingen ke Lebanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Hal ini menjadikan misi di Lebanon sebagai salah satu operasi perdamaian PBB terpanjang yang diikuti Indonesia.

Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang kini berada di kabinet Presiden Prabowo pernah menjadi bagian dari kontingen tersebut, di antaranya Agus Harimurti Yudhoyono.

Sebagai penutup, SBY menyampaikan pesan kepada prajurit Kontingen Garuda yang masih bertugas di Lebanon agar tetap menjaga semangat dan keselamatan selama menjalankan misi.

“Lakukan yang terbaik dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kepulangan di Tanah Air,” pungkasnya.