Dorongan UMKM dan Transformasi Digital Percepat Laju Ekonomi Surabaya

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menjelang penutupan tahun 2025, Kota Surabaya mencatatkan performa ekonomi yang mengesankan di tingkat nasional. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi, Surabaya tak sekadar mampu bertahan dari tekanan ekonomi global, tetapi justru mencatat akselerasi melalui penguatan ekonomi kerakyatan berbasis inovasi dan kolaborasi.

Pertumbuhan ekonomi Surabaya mencapai 5,76 persen, melampaui rata-rata Jawa Timur maupun nasional. Capaian ini menjadi bukti keberhasilan integrasi teknologi digital dengan semangat gotong royong yang diusung pemerintah kota.

Salah satu langkah strategis diwujudkan melalui Surabaya Great Expo (SGE) 2025. Memasuki penyelenggaraan ke-14, pameran tersebut hadir dengan pendekatan baru, yakni menggabungkan promosi produk lokal dengan layanan publik dalam satu ruang. Pemerintah kota berperan aktif sebagai fasilitator yang membuka akses luas bagi pelaku UMKM.

Hasilnya, nilai transaksi selama SGE 2025 menembus Rp6 miliar, mencerminkan tingginya minat dan kepercayaan pasar terhadap produk UMKM Surabaya.

“SGE bukan sekadar etalase produk, melainkan penggerak ekonomi daerah. Warga bisa berbelanja sekaligus mengurus NIB hingga konsultasi investasi dalam satu lokasi. Inilah konsep layanan terpadu untuk menguatkan ekonomi lokal,” ujar Eri Cahyadi, dikutip Sabtu, 27 Desember 2025.

Transformasi digital semakin diperkuat dengan peluncuran aplikasi Si-Boyo pada Desember 2025. Aplikasi ini menjadi instrumen digitalisasi Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP), yang memungkinkan UMKM memiliki etalase daring berbasis komunitas. Menariknya, sistem distribusi didukung oleh warga setempat sebagai kurir, sehingga perputaran ekonomi tetap berada di lingkungan lokal.

Menurut Eri, inovasi tersebut merupakan perwujudan nyata ekonomi berkeadilan. Saat ini, Si-Boyo tengah diimplementasikan di 153 kelurahan di seluruh Surabaya.

“Ini adalah ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong. Digitalisasi kami arahkan agar tetap berpihak pada warga kecil, UMKM, dan ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara ekonomi,” tegasnya.

Peran perempuan juga menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi Surabaya. Melalui program Gebyar Wirausaha Perempuan bertajuk Perempuan Berdaya Surabaya Sejahtera, Pemkot memberikan dukungan menyeluruh, mulai dari pendampingan bisnis, klinik usaha, hingga sertifikasi halal tanpa biaya.

Sepanjang 2025, kolaborasi lintas sektor berhasil melahirkan lebih dari 10 ribu wirausahawan baru, mayoritas berasal dari sektor ekonomi rumah tangga.

“Sinergi semua pihak membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM. Dampaknya, perkembangan usaha di Surabaya semakin pesat,” kata Eri.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemkot juga menggelar Surabaya Shopping Festival (SSF) pada Mei dan Surabaya Holiday Super Sale (SHSS) pada Desember 2025. Program ini melibatkan puluhan pusat perbelanjaan dan ribuan tenant, dengan diskon hingga 80 persen yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Di sisi lain, stabilitas harga tetap dijaga melalui koordinasi intensif dalam High Level Meeting bersama Satgas Pangan, TPID, TP2DD, TP2ED, serta TPAKD.

Menutup tahun, indikator sosial-ekonomi Surabaya menunjukkan hasil menggembirakan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 3,56 persen, kemiskinan ekstrem berhasil ditekan hingga nol, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,6—tertinggi di Jawa Timur. Selain itu, BUMD menyetorkan dividen sebesar Rp204,6 miliar ke kas daerah.

Dengan potensi ekonomi bruto yang diperkirakan menembus Rp700 triliun, Wali Kota Eri optimistis menghadapi 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.

“Kunci utamanya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebagai kota jasa dan gerbang Indonesia Timur, Surabaya memiliki peluang ekonomi besar jika seluruh elemen bergerak bersama,” pungkasnya.