JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga Bitcoin mengalami penurunan tipis dalam 24 jam terakhir seiring pasar memasuki fase pendinginan setelah reli yang terjadi sebelumnya.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Rabu (11/3/2026), harga Bitcoin tercatat turun sekitar 0,97 persen menjadi 69.526 dolar AS dalam perdagangan 24 jam terakhir.
Penurunan ringan ini dipicu oleh berkurangnya penggunaan leverage di pasar derivatif kripto. Data menunjukkan open interest perpetual swap turun sekitar 2,47 persen menjadi 402,14 miliar dolar AS. Selain itu, tingkat pendanaan rata-rata juga berubah negatif menjadi -0,003 persen.
Kondisi tersebut mengindikasikan banyak trader menutup posisi long dengan leverage, sehingga memunculkan tekanan jual meskipun skalanya relatif terbatas.
Di sisi lain, tidak terdapat sentimen negatif besar yang secara langsung menekan pergerakan harga Bitcoin dalam periode tersebut. Pergerakan yang terjadi lebih mencerminkan fase konsolidasi pasar setelah kenaikan harga sebelumnya, sebuah pola yang umum terjadi ketika pasar menyeimbangkan kembali posisi investor.
Untuk prospek jangka pendek, Bitcoin saat ini bergerak di antara sejumlah level teknikal penting yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Salah satu faktor yang dinilai akan memengaruhi arah harga adalah apakah arus dana yang masuk ke produk ETF Bitcoin akan terus berlanjut. Sebelumnya, pada awal pekan ini tercatat net inflow sebesar 167 juta dolar AS ke instrumen tersebut.
Secara teknikal, apabila harga mampu bertahan di atas level 69.682 dolar AS, maka Bitcoin berpotensi kembali menguji zona resistensi di sekitar 71.000 dolar AS.
Namun jika harga menembus level support berikutnya di kisaran 69.115 dolar AS—yang merupakan retracement 78,6 persen—risiko koreksi yang lebih dalam dinilai bisa meningkat dalam jangka pendek.














