JurnalPatroliNews – Jakarta – Peralihan masyarakat menuju transaksi non-tunai semakin nyata. Kebiasaan bertransaksi secara digital yang kian meluas membuat peran mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) perlahan menyusut di berbagai daerah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga kuartal III tahun 2025 jumlah ATM nasional berkurang 1.399 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga tersisa sekitar 89.774 unit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa perubahan pola transaksi masyarakat menjadi faktor utama di balik tren tersebut. Nasabah kini lebih mengandalkan layanan perbankan digital melalui gawai, sehingga kebutuhan menarik uang tunai semakin jarang.
Menurut Dian, kemudahan transaksi melalui aplikasi perbankan bukan hanya memberikan kenyamanan bagi pengguna, tetapi juga mendorong efisiensi bagi industri perbankan. Pengurangan infrastruktur fisik seperti ATM dinilai mampu menekan biaya operasional yang selama ini cukup besar.
“Seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi informasi di sektor keuangan, penurunan jumlah ATM kemungkinan akan terus terjadi. Hal ini mencerminkan perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan,” ujar Dian di Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Lebih jauh, ia menilai ekosistem pembayaran nontunai tidak sekadar menjadi tren gaya hidup, melainkan juga berkontribusi pada perputaran ekonomi yang lebih cepat dan efisien. Dengan agenda digitalisasi keuangan yang terus dipercepat, penyusutan jumlah ATM diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang.














