Teror terhadap Andrie Yunus Dikecam Keras, KontraS Sebut Demokrasi di Titik Nadir

JurnalPatroliNews | Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil mengecam keras aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Mereka mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus tersebut hingga menemukan pelaku dan dalang di balik serangan itu.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menilai peristiwa teror yang menimpa Andrie merupakan sinyal serius memburuknya situasi demokrasi di Indonesia. Menurutnya, intimidasi terhadap aktivis HAM tidak boleh dibiarkan karena dapat mengancam kebebasan sipil.

“Situasi ini bukan lagi sekadar alarm demokrasi. Kita sedang berada pada titik nadir demokrasi,” kata Dimas dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3).

Dimas mengungkapkan bahwa selama hampir tiga dekade berdiri, KontraS kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan dan teror. Meski demikian, ia menegaskan intimidasi tersebut tidak akan menghentikan perjuangan organisasi dalam mengawal isu-isu hak asasi manusia.

Ia juga meminta negara menunjukkan komitmen nyata dalam penegakan hukum serta perlindungan terhadap para pembela HAM. Menurutnya, pemerintah harus memastikan bahwa setiap tindakan kekerasan terhadap aktivis dapat diusut secara transparan dan akuntabel.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, turut mengutuk keras serangan tersebut. Ia menilai pengusutan kasus harus dilakukan secara serius dan objektif.

“Serangan air keras terhadap Andrie Yunus harus diinvestigasi secara mendalam. Ini bukan pertama kali Andrie mengalami teror,” ujar Usman.

Meski dalam beberapa waktu terakhir Andrie aktif mengkritisi isu-isu yang berkaitan dengan militer, Usman menegaskan bahwa penyelidikan tidak boleh berspekulasi tanpa bukti.

“Investigasi harus dilakukan secara profesional. Teror semacam ini sering muncul di tengah dinamika konflik elite politik, sehingga semua kemungkinan perlu dicermati,” katanya.

Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, juga mendesak kepolisian agar bekerja maksimal dalam mengungkap kasus tersebut. Ia mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan aparat sejak insiden terjadi.

“Kami meminta kepolisian menggunakan seluruh kemampuan penyidik untuk mengungkap siapa pelaku dan siapa otak di balik penyerangan ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3) malam. Insiden terjadi tidak lama setelah ia menghadiri sebuah podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI.

Menurut Dimas, serangan terjadi sekitar pukul 23.00 WIB saat Andrie mengendarai sepeda motor di kawasan Jalan Salemba I menuju Jalan Talang, Jakarta Pusat. Dua orang pelaku yang berboncengan dengan sepeda motor diduga mendekati korban dari arah berlawanan.

Salah satu pelaku kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban. Serangan tersebut menyebabkan Andrie mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuh, termasuk wajah, dada, tangan, dan area mata.

Akibat kejadian itu, Andrie segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen di tubuhnya.

Koalisi masyarakat sipil berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap kasus ini secara transparan agar memberikan rasa keadilan sekaligus menjamin keamanan bagi para pembela hak asasi manusia di Indonesia.