JurnalPatroliNews – Jakarta – Perusahaan baja raksasa asal Korea Selatan, POSCO International Corporation, kembali membuat langkah besar di Indonesia. Melalui entitas bisnisnya, AGPA Pte. Ltd., perusahaan tersebut resmi mengambil alih 65,721 persen saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) dari Grup Sampoerna yang berada di bawah kendali Twinwood Family Holdings Limited.
Transaksi ini bukan nilai sembarangan. Untuk membeli 1,19 miliar lembar saham SGRO, POSCO menggelontorkan dana sebesar Rp9,44 triliun, dengan harga Rp7.903 per saham.
Akuisisi besar ini langsung menempatkan POSCO dalam jajaran elite pemain perkebunan kelapa sawit nasional. Setelah kesepakatan rampung, total lahan sawit yang dikuasai perusahaan Korea tersebut melonjak menjadi 150.000 hektare—setara lebih dari dua kali luas Singapura yang hanya sekitar 71.800 hektare.
“Dengan akuisisi ini, kami menambah 128.000 hektare perkebunan dan kini memiliki basis pertanian global 150.000 hektare, termasuk di Papua,” tulis manajemen POSCO dalam keterangannya, Senin 8 Desember 2025.
Dominasi dari Hulu ke Hilir
POSCO menjelaskan bahwa masuknya SGRO ke dalam kelompok usaha mereka otomatis membuat rantai bisnis sawit berada dalam satu kendali penuh—mulai dari riset dan pembibitan, pengelolaan kebun, hingga produksi minyak sawit untuk bahan baku biofuel.
SGRO selama ini dikenal sebagai produsen sawit besar yang beroperasi di Sumatera dan Kalimantan. Perusahaan tersebut tak hanya memiliki perkebunan, namun juga unit usaha benih dan lembaga riset yang berposisi sebagai pemain nomor dua di pasar benih kelapa sawit dalam negeri.
Satu hal yang membuat akuisisi ini semakin menarik bagi POSCO adalah fakta bahwa sebagian besar kebun sawit yang diperoleh sudah berusia produktif, sehingga hasil panen dapat langsung dinikmati.
Jejak Panjang POSCO di Industri Sawit
Bukan pertama kalinya POSCO terjun ke sektor ini. Perusahaan telah membuka perkebunan sawit di Papua sejak 2011 dan memulai produksi komersial pada 2016. Saat ini POSCO mengoperasikan tiga pabrik pengolahan sawit dengan kapasitas gabungan 210.000 ton minyak sawit per tahun.
“Kelapa sawit merupakan industri jangka panjang dengan tingkat keuntungan tinggi. Tanaman mulai berproduksi dalam 3–4 tahun dan bisa dipanen lebih dari dua dekade,” klaim pihak perusahaan.














