Puncak Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi dalam Dua Gelombang


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Menjelang Idulfitri 2026, pergerakan masyarakat untuk mudik ke kampung halaman diperkirakan meningkat signifikan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, arus mudik menjadi perhatian utama karena berpotensi memicu kepadatan di berbagai jalur transportasi, mulai dari jalan tol, jalur arteri, hingga moda transportasi umum seperti kereta api dan pesawat.

Berdasarkan prediksi, puncak arus mudik dan arus balik tahun ini akan terjadi dalam dua gelombang. Pola tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait sistem kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA) yang diterapkan menjelang hari raya, yakni pada 16–17 Maret 2026.

Selain itu, periode mudik tahun ini juga berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi, sehingga diperlukan pengaturan khusus, terutama pada jalur penyeberangan dari Jawa Timur menuju Bali guna menghormati pelaksanaan ibadah umat Hindu.

Untuk arus mudik, gelombang pertama diperkirakan terjadi pada 14–15 Maret 2026, disusul gelombang kedua pada 18–19 Maret 2026. Sementara itu, puncak arus balik diprediksi berlangsung pada dua tahap, yakni 25–26 Maret 2026 dan 28–29 Maret 2026.

Lonjakan mobilitas selama periode Lebaran diperkirakan mencapai sekitar 143,9 juta perjalanan. Dari jumlah tersebut, sekitar 52 persen pemudik diprediksi menggunakan kendaraan pribadi.

Tingginya volume pergerakan ini berpotensi menyebabkan kepadatan di sejumlah ruas jalan utama, terutama jalur tol dan arteri yang menghubungkan wilayah Jabodetabek dengan berbagai daerah di Pulau Jawa maupun luar Jawa.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan matang, termasuk memilih waktu keberangkatan yang tepat, guna menghindari puncak kepadatan selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.