Terungkap! Mafia Beras Oplosan Gunakan Karung SPHP Bekas untuk Menipu Konsumen

JurnalPatroliNews – Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, membongkar trik baru yang digunakan oknum nakal dalam praktik pengoplosan beras bermerek SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Ia menegaskan bahwa beras oplosan yang beredar bukan berasal dari gudang Bulog, melainkan diisi oleh pelaku dengan beras kualitas rendah yang dikemas ulang menggunakan karung SPHP bekas.

“Ini bukan beras dari SPHP yang dioplos, tapi mereka gunakan karung bekas SPHP untuk mengelabui pembeli,” ujar Rizal kepada media, Senin (28/7/2025), merujuk pada hasil temuan Direktorat Kriminal Khusus Polda Riau pada 24 Juli lalu.

Rizal menjelaskan lebih lanjut, pelaku membeli karung kosong bekas beras SPHP, lalu mengisinya dengan campuran beras murah dan beras rusak. “Dia beli beras di Pelalawan seharga Rp8.000 per kilogram, ditambah beras pecahan atau reject, lalu dimasukkan ke dalam karung SPHP. Setelah dijahit, dijual ke pasar dengan harga Rp13.000,” beber Rizal.

Dari hasil penyelidikan, pelaku mengakui bahwa isi beras bukan milik Bulog. “Jadi yang asli cuma karungnya. Isinya bukan dari kami,” tegasnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, Bulog kini memperketat pengawasan. Rizal menyebut pihaknya telah menurunkan tim Satuan Pengawasan Internal (SPI) ke seluruh wilayah, bekerja sama dengan Satgas Pangan, aparat Babinsa, dan Babinkamtibmas.

“Kami lakukan kontrol ketat di daerah. Selain itu, kami gandeng koperasi lokal seperti Koperasi Merah Putih agar bisa ikut membantu pengawasan,” jelas Rizal.

Rizal juga memperingatkan soal peredaran karung SPHP ilegal yang marak dijual secara daring. “Saya lihat sendiri di Tokopedia ada yang jual karung SPHP kosong. Ini berbahaya. Saya sudah perintahkan Direktur Pengadaan untuk bertindak dan menertibkan praktik tersebut,” katanya.

Lebih lanjut, Bulog berencana menambahkan pengaman khusus pada kemasan beras SPHP. Di antaranya, penambahan hologram atau ID internal sebagai penanda keaslian produk. “Kami akan tempelkan identitas khusus di dalam karung, agar konsumen tahu ini benar-benar produk Bulog. Kalau tidak ada, berarti itu palsu,” jelasnya.

Selain itu, jalur distribusi juga akan diperluas melalui koperasi-koperasi di lembaga pemerintah seperti Koperasi Polri dan koperasi kementerian, yang dinilai lebih aman dari risiko penyalahgunaan.

“Distribusi lewat instansi pemerintahan jauh lebih terkontrol. Risiko oplosan sangat kecil. Yang rawan justru di pasar-pasar tradisional, karena pengawasannya kurang ketat,” tambah Rizal.

Kasus pengoplosan ini mencuat setelah kepolisian di Riau menggerebek gudang milik seorang distributor berinisial R (34) di kawasan Jalan Sail, Rejosari, Pekanbaru. Polisi menemukan beras campuran dalam karung SPHP yang diduga akan dijual sebagai produk resmi Bulog.

Dirkrimsus Polda Riau, Kombes Ade Kuncoro, mengungkapkan bahwa pelaku mencampur beras reject seharga Rp6.000 dengan beras medium Rp11.000, lalu menjualnya kembali seharga Rp13.000 per kilogram. R diketahui pernah menjadi mitra Bulog, namun telah diputus kontraknya karena menjual beras di atas harga eceran tertinggi (HET).