JurnalPatroliNews | Jakarta — Pemerintah menyiapkan water mist sebagai salah satu instrumen mitigasi menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau apabila kondisi atmosfer tidak mendukung terbentuknya awan hujan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Langkah tersebut dinilai memiliki dasar teknis, namun efektivitasnya tidak boleh hanya disimpulkan dari perubahan udara yang terlihat. Pemerintah perlu menunjukkan data mengenai seberapa besar konsentrasi partikulat dapat diturunkan setelah intervensi.
Pandangan itu disampaikan pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen kepada JurnalPatroliNews, Senin (7/9/2026). Menurut Samuel, water mist layak ditempatkan sebagai instrumen mitigasi, bukan solusi tunggal.
“Langkah pemerintah patut diapresiasi sepanjang ditempatkan sebagai instrumen mitigasi, bukan sebagai solusi tunggal, lebih tepat water mist dipahami sebagai salah satu instrumen mitigasi, bukan “sapu langit” yang mampu menghapus abu vulkanik dari atmosfer,” ujar Samuel.
Secara prinsip, kata dia, air dapat membantu menangkap sebagian partikulat di udara. Ketika droplet air bertemu partikel abu, sebagian material dapat mengalami penggabungan sehingga lebih mudah mengendap.
“Secara fisika, penggunaan water mist mempunyai dasar yang dapat diterima. Tetapi pemerintah dan masyarakat harus memahami batasannya,” katanya.
Samuel mengingatkan agar teknologi tersebut tidak menimbulkan persepsi bahwa penyemprotan kabut air otomatis menyelesaikan persoalan abu vulkanik.
“Jangan sampai muncul persepsi bahwa begitu water mist disemprotkan, persoalan abu vulkanik otomatis selesai. Itu tidak sesederhana itu,” tegasnya.
Atmosfer Bukan Ruang Laboratorium
Atmosfer, menurut Samuel, bukan ruang laboratorium. Di laboratorium, ukuran partikel, kelembapan, kecepatan aliran udara, ukuran droplet dan waktu kontak dapat dikendalikan. Di atmosfer terbuka, seluruh variabel tersebut berubah secara dinamis.
Abu Anak Krakatau bergerak mengikuti kondisi angin dan atmosfer. Partikel lebih besar cenderung cepat mengendap, sedangkan partikel sangat halus dapat bertahan lebih lama dan terbawa lebih jauh.
“Karena itu, efektivitas water mist tidak bisa hanya dilihat dengan mata. Udara terlihat lebih bersih belum tentu konsentrasi partikulat benar-benar turun secara signifikan,” ujarnya.
Secara ilmiah, konsep deposisi basah atau wet deposition memang dikenal sebagai salah satu mekanisme penghilangan partikel vulkanik dari atmosfer. Tetes air dapat membantu menangkap partikulat sehingga material lebih mudah mengalami pengendapan. Namun efektivitasnya dipengaruhi kondisi lingkungan dan karakteristik partikel.
Penelitian mengenai water spray juga menunjukkan bahwa interaksi droplet air dengan partikel dapat membantu proses penghilangan dalam kondisi tertentu. Namun hasil penelitian terkontrol tidak dapat langsung digeneralisasi sebagai efektivitas water mist terhadap abu Anak Krakatau di atmosfer terbuka.
Keberhasilan Harus Terukur
Karena itu, Samuel meminta pemerintah menggunakan indikator objektif.
“Kalau pemerintah ingin menyatakan metode tersebut efektif, harus ada pengukuran sebelum dan sesudah intervensi,” katanya.
Pengukuran dapat mencakup konsentrasi partikulat, distribusi ukuran partikel, arah dan kecepatan angin, kelembapan, cakupan wilayah penyemprotan serta kondisi atmosfer saat operasi berlangsung.
“Dari situ baru dapat diketahui apakah terjadi penurunan konsentrasi abu dan seberapa besar pengaruh intervensinya. Jangan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi,” ujarnya.
Samuel juga mengingatkan bahwa istilah “mengurai abu” perlu dikomunikasikan secara hati-hati. Water mist tidak membuat abu lenyap, melainkan membantu menangkap partikulat sehingga sebagian material mengalami pengendapan.
“Abunya tidak lenyap begitu saja. Ketika turun ke jalan, kendaraan, bangunan atau tanah, persoalannya berpindah ke permukaan,” kata Samuel.
Abu yang telah mengendap pun dapat kembali terangkat oleh angin atau aktivitas manusia. Karena itu, penanganan harus mencakup keseluruhan siklus, bukan hanya menurunkan partikulat dari udara.
Bukan Pengganti Hujan
Samuel menilai water mist juga tidak tepat disebut sebagai pengganti hujan secara penuh. Hujan memiliki mekanisme dan cakupan berbeda, sementara water mist lebih tepat dipandang sebagai instrumen tambahan atau alternatif dalam kondisi tertentu.
“Jangan dipertentangkan antara hujan dan water mist. Yang harus dibangun adalah sistem mitigasi berlapis berdasarkan kondisi atmosfer yang tersedia,” ujarnya.
Menurut Samuel, kunci berikutnya adalah integrasi data dan koordinasi antarlembaga. PVMBG memantau aktivitas gunung, BMKG membaca dinamika atmosfer dan pergerakan abu, sedangkan BNPB menangani aspek kebencanaan. Pemerintah daerah, sektor kesehatan dan keselamatan penerbangan juga harus berada dalam sistem yang terintegrasi.
“Jangan sampai masing-masing bekerja sendiri,” katanya.
Ia mendorong pemerintah membuka hasil pengukuran kepada publik. Jika water mist menurunkan partikulat di wilayah tertentu, datanya harus ditunjukkan. Sebaliknya, jika efektivitas terbatas akibat kondisi angin atau atmosfer, hal itu juga perlu disampaikan.
“Transparansi hasil pengukuran akan lebih kuat daripada sekadar klaim keberhasilan,” ujar Samuel.
Masyarakat Tetap Waspada
Di tengah penggunaan teknologi mitigasi, masyarakat juga diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi. Penggunaan masker, perlindungan mata dan pembatasan aktivitas di luar ruangan tetap penting ketika konsentrasi abu meningkat.
“Teknologi tidak boleh membuat masyarakat merasa bahwa risiko sudah hilang sepenuhnya,” katanya.
Pada akhirnya, Samuel menilai water mist memiliki potensi membantu mengurangi partikulat, tetapi efektivitasnya terhadap abu Anak Krakatau harus dibuktikan melalui pengukuran lapangan.
“Jangan menggunakan pendekatan hitam-putih, seolah-olah teknologi ini pasti berhasil atau pasti gagal,” ujarnya.
“Yang harus ditanyakan adalah: pada kondisi atmosfer seperti apa efektif, terhadap ukuran partikel seperti apa, di wilayah mana, berapa lama dilakukan, dan berapa besar penurunan konsentrasi partikulat yang terukur.”
Ia menilai hasil pengukuran harus menjadi dasar untuk memperluas, memperbaiki atau mengevaluasi teknologi tersebut.
“Kalau data menunjukkan ada manfaat, tentu layak dilanjutkan dan diperbaiki. Kalau ternyata efektivitasnya rendah pada kondisi tertentu, pemerintah juga harus terbuka mengevaluasi,” kata Samuel.
“Intinya, jangan menjual harapan teknologi kepada masyarakat. Gunakan teknologi, ukur hasilnya, evaluasi, kemudian perbaiki.”















Komentar