JurnalPatroliNews | Jakarta — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan.
Upaya penanganan dilakukan dengan mengerahkan ribuan personel di lapangan serta puluhan armada udara, termasuk helikopter patroli, water bombing, dan dukungan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB Brigjen Djohan Darmawan mengatakan, peningkatan titik api dalam beberapa hari terakhir terjadi terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
“Sejauh ini untuk Kalbar, Kalteng, dan Kalsel kita dalam BNPB sudah mengerahkan unit-unit water bombing, operasi modifikasi cuaca (OMC), maupun heli patroli,” kata Djohan dalam konferensi pers, Sabtu (22/8/2026).
Di Kalimantan Barat, BNPB mengerahkan 10.010 personel untuk melakukan pemadaman, pendinginan, hingga penyekatan di area yang terdampak kebakaran. Operasi tersebut diperkuat dengan 11 unit helikopter dan enam unit water bombing.
BNPB juga menyiapkan dua pangkalan Satuan Tugas Udara di Kalbar, yakni Pontianak dan Ketapang. Dari dua lokasi tersebut, armada udara digeser untuk memperkuat operasi di wilayah yang dinilai membutuhkan penanganan, antara lain Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya.
Sementara di Kalimantan Tengah, BNPB mengoperasikan 10 unit helikopter. Armada tersebut terdiri atas tiga helikopter Bell, satu Caravan yang dapat mendukung patroli maupun OMC, serta enam unit water bombing.
Untuk mendukung mobilitas operasi, dua pangkalan turut disiapkan di Bandara Tjilik Riwut dan Kabupaten Sampit.
Penanganan juga dilakukan secara intensif di Kalimantan Selatan. BNPB mengerahkan sembilan unit helikopter dan sekitar 9.800 personel yang berasal dari unsur TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, BPBD, sektor swasta, serta unsur pendukung lainnya.
Djohan menyebut luas area yang terbakar di Kalimantan Selatan hingga saat ini mencapai sekitar 8.900 hektare.
Di Pulau Sumatra, operasi serupa digelar dengan skala besar. Di Riau, BNPB mengerahkan tujuh unit helikopter, terdiri atas helikopter Bell dan Caravan untuk mendukung operasi pemadaman serta pendinginan.
Penanganan karhutla di Riau dilakukan pada area terbakar sekitar 16.249 hektare, dengan dukungan 17.764 personel.
“Sejauh ini unit yang tergelar di Provinsi Riau ini sudah melakukan pemadaman dan pendinginan di kurang lebih area yang terbakar itu 16.249 hektare,” jelas Djohan.
Sementara di Sumatra Selatan, BNPB mengerahkan sembilan unit Satgas Udara yang meliputi helikopter patroli, water bombing, dan Caravan untuk mendukung OMC. Sebanyak 11.567 personel turut diterjunkan untuk operasi pemadaman dan pendinginan.
Personel yang dilibatkan berasal dari TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, pihak swasta, serta berbagai unsur lain yang mendukung operasi penanganan karhutla.
“Di sini kami menggelar kurang lebih 11.567 personel, yang di dalamnya dari TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, BPBD, swasta, dan unsur-unsur yang membantu dalam pemadaman dan pendinginan di lokasi-lokasi terdampak di wilayah Sumatera Selatan,” terang Djohan.
Hingga 22 Agustus 2026, luas lahan terbakar di Sumatra Selatan tercatat sekitar 1.926 hektare.
Sementara di Jambi, BNPB mengerahkan enam unit helikopter, yang terdiri atas helikopter Bell, satu unit Caravan untuk mendukung OMC, serta empat unit water bombing. Operasi tersebut diperkuat 5.818 personel.
Secara keseluruhan, BNPB mencatat 52 unit helikopter dan Caravan telah dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dari jumlah tersebut, 30 unit berada di Kalimantan dan 22 unit di Sumatra.
Pengerahan armada udara menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran di area yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Sementara keberadaan ribuan personel di lapangan diarahkan untuk memastikan pemadaman, pendinginan, penyekatan, serta pengendalian titik kebakaran dapat dilakukan secara terpadu.
BNPB juga terus mengombinasikan operasi darat dan udara dengan OMC sebagai bagian dari strategi pengendalian karhutla. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan penyebaran titik api sekaligus mempercepat proses pemadaman di wilayah terdampak.
Besarnya kekuatan personel dan armada yang digelar menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian serius pemerintah, terutama di tengah meningkatnya titik api di sejumlah wilayah.














Komentar