Analis PBB Soroti Kepentingan Sumber Daya di Balik Tekanan AS terhadap Maduro

JurnalPatroliNews – Jakarta – Penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada Sabtu, 3 Januari 2026, dipandang sebagai titik kulminasi dari meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas.

Langkah tersebut menandai eskalasi terbuka dalam upaya Amerika Serikat menekan kepemimpinan Venezuela, negara yang dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Sebelum operasi penangkapan tersebut, Amerika Serikat dilaporkan telah memperketat tekanan dengan mencegat serta menyita sejumlah kapal pengangkut minyak Venezuela di kawasan perairan sekitarnya. Rangkaian tindakan ini kemudian berkembang menjadi aksi militer langsung, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik kedua negara.

Pakar Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Alfred de Zayas, menilai bahwa tindakan agresif Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump tidak bisa dilepaskan dari kepentingan ekonomi, khususnya penguasaan sumber daya alam strategis yang dimiliki Venezuela. Negara tersebut menyimpan kekayaan alam bernilai tinggi, mulai dari minyak bumi, emas, hingga litium yang menjadi komoditas penting bagi industri energi dan teknologi global.

Dalam sebuah wawancara pada Desember 2025 yang kembali dikutip Minggu, 4 Januari 2026, de Zayas menyebut bahwa dorongan untuk menguasai sumber daya Venezuela kerap dibungkus dengan narasi politik.

“Venezuela bukan hanya kaya minyak, tetapi juga emas dan litium. Jika sektor-sektor ini diprivatisasi, nilainya sangat besar. Sayangnya, alih-alih memperolehnya melalui mekanisme yang adil, ada keinginan untuk mendapatkannya dengan harga semurah mungkin,” ujar de Zayas.

Ia menilai pola tekanan hingga intervensi tersebut mencerminkan praktik lama kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang berulang kali mencampuri urusan domestik negara lain demi kepentingan ekonomi dan pengaruh geopolitik.

“Pada akhirnya hanya ada dua pilihan yang sering ditempuh: mengambil sumber dayanya secara paksa, atau menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa,” katanya.

Untuk memperkuat pandangannya, de Zayas merujuk pada buku Overthrow karya Profesor Stephen Kinzer, yang mengulas sejarah panjang keterlibatan Amerika Serikat dalam penggulingan pemerintahan di berbagai negara sejak akhir abad ke-19 hingga era modern.

“Buku itu mendokumentasikan bagaimana sejak kasus Hawaii hingga abad ke-21, Amerika Serikat berulang kali terlibat dalam menjatuhkan pemerintahan asing,” tuturnya.

Meski demikian, de Zayas meragukan keberhasilan upaya menggulingkan Maduro. Berdasarkan pengamatannya selama berada di Venezuela, ia menilai sentimen anti-Amerika di kalangan masyarakat sangat kuat.

Ia juga memperingatkan bahwa intervensi militer justru berpotensi memicu konflik bersenjata berkepanjangan di kawasan tersebut, yang dampaknya bisa jauh lebih destruktif dibandingkan perang-perang besar sebelumnya.

“Pasukan Amerika tidak akan disambut sebagai pembebas. Mereka justru akan menghadapi perlawanan. Warga Venezuela dan Kolombia memiliki pengalaman panjang dalam perang gerilya,” tegas de Zayas.