JurnalPatroliNews – Ramallah – Pasukan militer Israel dilaporkan melakukan aksi penyerbuan ke kawasan Desa Deir Abu Mash’al di wilayah Tepi Barat yang diduduki pada Jumat (12/6/2026).
Insiden ketegangan bersenjata tersebut meletus tepat pada saat ratusan warga Muslim setempat tengah berkumpul untuk melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Selain untuk beribadah, para warga sipil tersebut sebenarnya juga tengah bersiap untuk menggelar aksi demonstrasi damai guna memprotes dugaan perampasan lahan oleh pemukim Israel.
Berdasarkan draf rekaman video dari lokasi kejadian yang dipublikasikan oleh Viory, puluhan tentara Israel tampak dikerahkan secara masif di sekitar masjid desa.
Rumah ibadah yang menjadi titik kumpul utama warga tersebut diketahui terletak di sebelah barat laut dari pusat kota Ramallah.
Tepat saat para jemaah mulai memadati area, pasukan Israel terlihat secara membabi buta menembakkan gas air mata ke arah halaman sekitar masjid.
Tindakan represif tersebut sontak membuat para jemaah panik dan langsung berlarian menyelamatkan diri meninggalkan lokasi peribadatan.
Petugas medis lapangan setempat, Raed Al-Khatib, memberikan kesaksian bahwa rentetan tembakan gas air mata dan granat kejut dilepaskan berulang kali ketika posisi jemaah masih berada di dalam masjid.
Akibatnya, tim medis di lapangan harus bersiaga penuh guna menangani banyak sekali kasus gangguan pernapasan dan sesak napas akut yang diderita oleh para warga sipil.
“Hari ini secara khusus, tabung gas air mata ditembakkan berulang kali ke arah jemaah saat mereka berada di dalam masjid. Kami menangani banyak kasus sesak napas,” ungkap Raed Al-Khatib kepada awak media.
Kendati diwarnai draf kepanikan massal yang luar biasa di sekitar area rumah ibadah, sejauh ini beruntung tidak ada laporan mengenai adanya korban jiwa.
Ambisi Perluasan Pemukiman Ilegal dan Data PBB
Menurut keterangan perwakilan warga setempat, para jemaah sebelumnya telah bersepakat untuk melakukan draf longmarch menuju ke area lahan pertanian mereka.
Lahan produktif tersebut diklaim telah dirampas secara sepihak dan ilegal oleh jaringan kelompok pemukim ekstremis Israel.
Laporan dari media lokal Palestina menyebutkan bahwa para pemukim tersebut baru-baru ini nekat mendirikan tenda dan pos permukiman baru secara ilegal.
Pencaplokan draf wilayah tersebut menyasar tanah milik warga Deir Abu Mash’al serta sejumlah wilayah administrasi desa tetangga di sekitarnya.
Hingga draf berita internasional ini diturunkan, komando militer Israel terpantau masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait operasi penyerbuan tersebut.
Insiden penyerangan di hari suci umat Islam ini terjadi di tengah draf tren peningkatan eskalasi kekerasan oleh pemukim Israel yang kian meresahkan di Tepi Barat.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyatakan bahwa lebih dari 1.000 kasus serangan pemukim terhadap warga Palestina telah tercatat sepanjang tahun 2026 berjalan.
Sementara itu, draf data dari Komite Palestina untuk Perlawanan terhadap Tembok dan Permukiman menunjukkan fakta ekspansi yang tidak kalah mencengangkan.
Otoritas pendudukan Israel dilaporkan telah mengeluarkan perintah sita resmi terhadap sekitar 516 dunam lahan strategis di Tepi Barat sejak awal tahun ini.
Segala bentuk aktivitas ekspansi permukiman ilegal Israel di Tepi Barat terus bertindak sebagai sumbu utama ketegangan dalam konflik berkepanjangan Israel-Palestina.
Pihak Palestina bersama mayoritas komunitas internasional menilai draf perluasan wilayah ini merupakan hambatan paling nyata bagi terwujudnya kemerdekaan negara Palestina.









Komentar