JurnalPatroliNews – Jakarta – Amerika Serikat dilanda krisis cuaca ekstrem setelah badai musim dingin berskala besar menerjang sejumlah wilayah pada Minggu, 25 Januari 2026 waktu setempat. Dampak badai tersebut menyebabkan lebih dari satu juta pelanggan kehilangan aliran listrik dan memaksa pembatalan lebih dari 10 ribu penerbangan di berbagai bandara.
Fenomena cuaca berupa hujan salju lebat, hujan es, hingga hujan beku melumpuhkan hampir dua pertiga kawasan timur dan selatan AS. Negara bagian Tennessee, Mississippi, dan Louisiana tercatat sebagai wilayah yang mengalami dampak paling parah.
Sektor transportasi udara menjadi salah satu yang paling terpukul. Seluruh penerbangan di Bandara Nasional Ronald Reagan, Washington DC, dihentikan sementara. Sementara itu, bandara-bandara utama di New York, Philadelphia, dan Charlotte membatalkan lebih dari 80 persen jadwal penerbangan mereka. Maskapai Delta Air Lines memberlakukan pengurangan operasional dan mengerahkan tim khusus untuk proses pencairan es pada armada pesawat.
Pemerintah federal dan pemerintah negara bagian merespons situasi ini dengan menetapkan status darurat secara luas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut badai tersebut sebagai peristiwa cuaca “bersejarah”. Sebanyak 12 negara bagian telah menerima penetapan status darurat federal, sementara total 17 negara bagian bersama Washington DC mengumumkan keadaan darurat cuaca.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, memperingatkan bahwa ancaman terhadap sistem kelistrikan berpotensi berlangsung lama. Menurutnya, suhu dingin yang ekstrem akan membuat lapisan es tetap menempel pada jaringan kabel listrik sehingga meningkatkan risiko kerusakan, meskipun tidak langsung roboh.
Merespons kondisi tersebut, Departemen Energi Amerika Serikat mengeluarkan perintah darurat yang memungkinkan operator jaringan listrik menggunakan sumber daya cadangan guna mencegah meluasnya pemadaman listrik di tengah badai yang masih berlanjut.














