JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait anjloknya nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah hingga Rp17.400 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Airlangga Hartarto, pelemahan rupiah bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami sejumlah negara lain yang menghadapi tekanan terhadap penguatan dolar AS.
Ia menilai salah satu faktor yang turut mendorong tingginya permintaan dolar adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing pada musim ibadah haji.
“Terkait dengan rupiah itu berbagai negara memang mengalami pelemahan terhadap US Dollar dan biasanya juga pada saat ibadah haji demand terhadap dolar itu meningkat,” kata Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Selain kebutuhan haji, lonjakan permintaan dolar juga umumnya terjadi pada kuartal kedua karena adanya berbagai kewajiban pembayaran, termasuk distribusi dividen oleh perusahaan.
Hal tersebut membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar di tengah ketidakpastian global.
“Jadi nanti kita juga akan monitor kebutuhan tersebut dan juga biasanya di kuartal kedua itu juga ada pembayaran dividen jadi demand terhadap dolar tinggi dan kita lihat tetap monitor bagaimana dengan negara-negara lain,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Airlangga, telah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar melalui sejumlah langkah mitigasi, termasuk penguatan kerja sama keuangan dengan negara mitra.
Menurutnya, Indonesia telah menyiapkan skema antisipasi terhadap guncangan nilai tukar melalui kerja sama dengan China, Jepang, Korea Selatan, serta sejumlah negara lainnya.
“Namun kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan shock currency dengan China kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” tuturnya.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus mengatur strategi pembiayaan nasional, termasuk komposisi utang serta penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang asing.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
“Sehingga berharap nanti ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China ataupun dari Yen itu untuk menjaga tekanan terhadap US Dollar,” pungkas Airlangga Hartarto.













