Dunia Terancam Krisis Energi: Iran Ancam Ratakan Fasilitas Minyak dan Gas di Kawasan Teluk

JurnalPatroliNews – Jakarta – Republik Islam Iran mengeluarkan ancaman serius untuk menghancurkan seluruh fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.

Pernyataan provokatif ini muncul sebagai respons atas tewasnya Kepala Intelijen Iran, Esmail Khatib, yang diduga akibat serangan udara Israel, menyusul kematian Kepala Keamanan Ali Larijani sebelumnya.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka telah menjanjikan pembalasan setimpal atas gugurnya para pemimpin senior tersebut.

Gelombang kematian petinggi Iran ini terus bertambah sejak serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) mulai 28 Februari 2026 lalu.

Ketegangan mencapai titik didih pada Rabu (18/3/2026), setelah fasilitas gas di Pars Selatan—yang memegang rekor cadangan gas terbesar di dunia—dilaporkan dihantam rudal.

Televisi nasional Iran menyebut serangan tersebut merupakan operasi terkoordinasi antara AS dan Israel untuk melumpuhkan sektor energi mereka.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras melalui keterangan resmi yang dikutip dari AFP. Mereka menegaskan bahwa infrastruktur energi milik negara-negara sekutu AS dan Israel di kawasan Teluk akan menjadi target utama jika agresi terhadap sektor energi Iran tidak segera dihentikan.

“Kami memperingatkan bahwa kalian telah melakukan kesalahan besar dengan menyerang infrastruktur energi milik Republik Islam.

Jika hal ini terulang, serangan terhadap infrastruktur energi kalian tidak akan berhenti sampai hancur total,” tegas pernyataan resmi Garda Revolusi Iran.

Pihak Teheran mengklaim bahwa tanggapan militer yang akan datang bakal jauh lebih destruktif dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

Sementara itu, Tel Aviv memilih untuk bungkam terkait insiden di Pars Selatan, dan Washington secara tegas membantah keterlibatan mereka dalam serangan spesifik tersebut.

Dunia kini menaruh perhatian besar pada stabilitas Selat Hormuz dan kawasan Teluk, mengingat ancaman penghancuran fasilitas minyak ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global secara ekstrem dan mengganggu rantai pasok dunia.