JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di kawasan Laut Arab mencapai titik didih baru setelah militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal jelajah yang menargetkan kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln (CVN-72), pada Rabu (25/3).
Kepala Angkatan Laut Iran, Laksamana Shahram Irani, menyatakan bahwa rudal anti-kapal berbasis darat jenis Qader telah dikerahkan untuk menghantam kapal induk tersebut. Menurut klaim Teheran, serangan ini memaksa armada tempur AS untuk mengubah posisi strategisnya di perairan tersebut.
“Kelompok kapal induk tersebut terus dipantau. Segera setelah armada musuh berada dalam jangkauan sistem rudal kami, mereka akan menjadi sasaran serangan dahsyat,” tegas Irani sebagaimana dikutip dari AFP.
Tanggapan Amerika Serikat Hingga saat ini, Washington belum mengeluarkan pernyataan resmi yang membenarkan adanya serangan rudal dari pihak Iran.
Sebaliknya, Armada Kelima AS merilis keterangan mengenai adanya personel yang terluka, namun menyebutnya sebagai insiden non-kombatan.
“Seorang pelaut Angkatan Laut AS terluka di atas USS Abraham Lincoln saat melakukan operasi penerbangan di Laut Arab pada 25 Maret. Cedera tersebut tidak terkait dengan pertempuran dan tidak mengancam jiwa,” tulis pernyataan resmi Armada Kelima AS.
Pelaut yang terluka dilaporkan telah dievakuasi ke darat untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut dan dalam kondisi stabil. Perbedaan klaim antara kedua belah pihak ini menciptakan tabir ketidakpastian di tengah konflik yang terus memanas.
USS Abraham Lincoln diketahui merupakan bagian dari satuan tugas utama dalam operasi militer AS-Israel terhadap Iran yang dilaporkan telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Kehadiran kapal induk bertenaga nuklir ini di Laut Arab menjadi simbol kekuatan sekaligus target utama dalam konfrontasi terbuka di wilayah Asia Barat.












