Jelang 7 Oktober, Israel Tingkatkan Siaga di Gaza dan Keluarkan Ancaman Keras

JurnalPatroliNews – Gaza — Situasi di Gaza kembali menjadi sorotan menjelang peringatan tiga tahun serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Militer Israel meningkatkan tingkat kesiagaan setelah menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan terhadap pasukannya di Gaza pada hari peringatan tersebut.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan peningkatan kesiagaan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan.

Katz juga mengeluarkan peringatan keras. Ia mengatakan Hamas dan warga Gaza akan menghadapi konsekuensi berat apabila pasukan Israel menjadi sasaran serangan.

“Jika, amit-amit, pasukan kami terluka, pihak yang akan membayar harga mahal adalah Hamas dan penduduk Gaza, di luar proporsi,” demikian pernyataan kantor Katz yang dikutip AFP, Selasa (6/10/2026).

Peringatan tersebut disampaikan ketika Israel memasuki momentum tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023 yang kemudian memicu perang besar di Gaza.

Israel Tingkatkan Kewaspadaan

Bagi Israel, serangan 7 Oktober 2023 menjadi salah satu peristiwa paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Serangan yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang dibawa ke Gaza sebagai sandera, menurut laporan Reuters dan AP.

Serangan tersebut kemudian diikuti operasi militer Israel di Jalur Gaza dalam skala besar.

Konflik yang berlangsung selama hampir tiga tahun itu menyebabkan kehancuran luas di Gaza dan menimbulkan jumlah korban jiwa yang sangat besar.

Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas melaporkan lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas. Angka tersebut juga dikutip dalam laporan media internasional, dengan catatan bahwa data korban berasal dari otoritas kesehatan Gaza.

Di tengah situasi tersebut, Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di sebagian besar wilayah Gaza.

Serangan Masih Terjadi Meski Ada Gencatan Senjata

Gencatan senjata yang diberlakukan pada Oktober 2025 sempat menurunkan intensitas pertempuran dan memungkinkan pembebasan sejumlah sandera serta tahanan.

Namun, penghentian pertempuran tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan.

Reuters melaporkan pada 6 Oktober 2026 bahwa lebih dari 1.400 warga Palestina telah tewas akibat aktivitas militer Israel sejak gencatan senjata tersebut diberlakukan. Israel juga masih menguasai sekitar dua pertiga wilayah Gaza, sementara sejumlah agenda utama dalam kesepakatan, termasuk pelucutan senjata Hamas dan penarikan penuh pasukan Israel, belum terselesaikan.

Kondisi itu membuat momentum peringatan 7 Oktober tahun ini berlangsung dalam situasi yang masih belum sepenuhnya stabil.

Peningkatan kesiagaan Israel juga menunjukkan bahwa kemungkinan aksi kekerasan baru masih menjadi perhatian aparat keamanan negara tersebut.

Netanyahu Tegaskan Hamas Tak Akan Memerintah Gaza

Sehari sebelum peringatan tiga tahun serangan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan sikap pemerintahnya dalam upacara kenegaraan.

Netanyahu menegaskan bahwa Hamas tidak akan memerintah Gaza. Ia juga mengatakan Israel akan terus menargetkan pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam serangan 7 Oktober maupun mereka yang menyandera warga Israel.

Pernyataan tersebut mempertegas posisi pemerintah Israel mengenai masa depan pemerintahan di Gaza, sekaligus menunjukkan bahwa isu keamanan dan pembebasan sandera masih menjadi bagian utama dalam kebijakan Israel.

Sementara itu, perkembangan di lapangan tetap menjadi perhatian internasional karena gencatan senjata belum menyelesaikan sejumlah persoalan utama konflik.

Tiga Tahun Setelah 7 Oktober

Tiga tahun setelah serangan Hamas, dampak konflik masih terasa di kedua sisi.

Di Israel, keluarga korban dan para penyintas terus memperingati peristiwa yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan membawa 251 orang ke Gaza sebagai sandera. Sebagian sandera telah dibebaskan dalam berbagai kesepakatan, sementara puluhan lainnya dilaporkan meninggal selama berada dalam penahanan.

Di Gaza, perang meninggalkan kehancuran luas dan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Reuters melaporkan lebih dari 1,2 juta warga Gaza masih menghadapi kondisi kelaparan akut, sementara upaya rekonstruksi berjalan jauh di bawah kebutuhan yang diperkirakan.

Memasuki 7 Oktober 2026, perhatian kini tertuju pada bagaimana situasi keamanan di Gaza berkembang dan apakah peringatan tiga tahun serangan tersebut akan kembali diwarnai kekerasan.

Komentar